Selasa, 21 Desember 2010

SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF

SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF

Istilah eksekutif diterapkan agak bebas. Eksekutif sering dikaitkan
dengan perencanaan jangka panjang dan berorientasi pada kesejahteraan
perusahaan. Jika tidak ada sistem informasi eksekutif dan hanya ada
sistem informasi fungsional, manajer pucuk akan menerima semua
informasi dari subsistem-subsistem fungsional dan para eksekutif harus
menyarikan dan mensintesiskan data menjadi suatu bentuk yang berarti
bagi mereka. Sistem informasi eksekutif membebaskan eksekutif dari
tugas tersebut.
Beberapa pandangan tentang apa yang dilakukan eksekutif :
1) Menurut Henri Fayol, semua manajer melakukan fungsi-fungsi
manajemen yang sama: merencanakan, mengorganisasikan, menyusun
staf, mengarahkan dan mengendalikan. Perencanaan sangat
ditentukan pada tingkat eksekutif, sedangkan fungsi-fungsi lain oleh
tingkat yang lebih rendah.
2) Peran-peran manajerial Mintzberg, semua manajer melakukan semua
peran, tetapi orientasinya berbeda untuk tiap tingkatan. Salah satu
peran keputusan adalah negotiator. Salah satu contoh, seorang
manajer puncak berunding dalam menggabungkan usaha (merger),
dan manajer tingkat bawah/rendah berunding tentang tanggal
penerimaan dengan pemasok.
3) Agenda dan jaringan Kotter, menurut Prof. John P. Kotter dari Harvard
para eksekutif mengatasi tantangan pekerjaan mengikuti strategi tiga
tahap: (a) menetapkan agenda - tujuan yang harus dicapai
perusahaan (panjang, mencegah, dan jangka pendek); (b) membangun
jaringan kerjasama diantara orang-orang yang harus menyelesaikan
agenda tersebut; (c) menetapkan lingkungan norma dan nilai yang
tepat sehingga anggota jaringan dapat bekerja mencapai agenda itu.
Pikiran manajer sering dipandang sebagai black box, yang tidak
boleh dibuka. Menurut Prof. Daniel J. Isenberg dari Harvard, bahwa
eksekutif berpikir mengenai dua kelompok umum masalah: bagaimana
membuat sesuatu dilaksanakan dan bagaimana menangani sejumlah
kecil masalah utama atau sasaran umum. Seorang eksekutif sering
melompat dari definisi masalah ke penerapan solusi dan kemudian
kembali ke evaluasi alternatif. Eksekutif memang sering membuat
keputusan rasional, tetapi mungkin tidak selalu merupakan hasil dari
mengikuti serangkaian langkah-langkah yang terdefinisikan secara baik
dalam urutan yang sama.
1. Kebutuhan Informasi Eksekutif yang Unik
Eksekutif memiliki tanggung jawab yang unik dan terlibat dalam
proses berpikir yang unik, mereka juga memiliki kebutuhan informasi
yang unik. Ada 3 penelitian mengenai penggunaan informasi oleh
eksekutif.
a) Penelitian Mintzberg; orang pertama melakukan penelitian formal
mengenai kebutuhan informasi eksekutif. Ada 5 kegiatan dasar
yang membentuk waktu CEO – tugas administrasi (desk work) 22%,
panggilan telepon 6%, pertemuan tak terjadwal 10%, pertemuan
terjadwal 59%, dan kunjungan 3%.
b) Penelitian Jones dan McCleod; penelitian mengenai arus informasi
masuk dari 5 eksekutif. Para eksekutif tersebut mencakup CEO
suatu rangkaian toko pengecer, CEO suatu bank, presiden direktur
suatu perusahaan asuransi, wakil presiden direktur keuangan, dan
wakil presiden direktur perpajakan.
Penelitiannya dirancang untuk menjawab pertanyaan :
•Berapa banyak informasi yang mencapai eksekutif? Selama dua
minggu eksekutif dan sekretaris mereka mencatat 1.454
transaksi informasi yang menjalin ke eksekutif. Transaksi
adalah suatu komunikasi yang melibatkan medium apapun:
laporan komputer, memo, kunjungan pengamatan, panggilan
telepon, surat, rapat dan sebagainya. Rata-rata 29
transaksi/hari.
•Apa nilai informasi tersebut? Tiap transaksi diberi nilai 0 (tanpa
nilai) hingga 10 (maksimum). Hasil pengamatan menunjukkan
ada variasi dalam tingkat nilai yang diberikan oleh tiap eksekutif,
berkisar dari rata-rata 2,9 untuk wakil presiden direktur
perpajakan hingga 5,5 untuk CEO bank.
83
•Apa sajakah sumber informasi itu? Lingkungan menyediakan
volume terbesar, tetapi juga menyediakan informasi dengan nilai
rata-rata terendah. Sebaliknya sumber yang menyediakan
volume paling sedikit adalah komite, tetapi mereka menyediakan
informasi dengan nilai tertinggi. Dua tingkat yang langsung di
bawah eksekutif menyediakan informasi terbaik dalam hal
volume dan nilai yang tinggi.
•Media apa yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi
eksekutif? Media tertulis mencapai 61% dari jumlah transaksi.
Panggilan telepon merupakan satu-satunya komunikasi lisan
yang bervolume besar. Sayang bagi para eksekutif , tiga media
yang paling sedikit mereka kendalikan (surat, memo dan
panggilan telepon) mencapai 60% transaksi.
•Apa kegunaan informasi itu? Para peneliti dibantu oleh para
eksekutif memberikan suatu peran keputusan untuk tiap
transaksi informasi. Pemberian tersebut mencerminkan
bagaimana eksekutif akan menggunakan informasi itu.
Penggunaan informasi: penanganan gangguan 42%,
entrepreneur 32%, pengalokasian sumberdaya 17%, negosiator
3%, dan tidak diketahui 6%.
Ada tiga penemuan penelitian yang paling menonjol :
•Sebagian besar informasi eksekutif berasal dari sumberdaya
lingkungan, tetapi informasi intern diberi nilai lebih tinggi.
•Sebagian besar informasi eksekutif berbentuk tertulis, tetapi
informasi lisan diberi nilai lebih tinggi.
•Para eksekutif mendapatkan sangat sedikit informasi langsung
dari komputer.
Tidak ada sistem informasi eksekutif yang sepenuhnya berbasis
komputer.
c) Penelitian Rockart dan Treacy. Sukar untuk membedakan usaha
pada sistem informasi eksekutif antara penelitian Mintzberg dan
penelitian 1980-an oleh John Rockart dan Michael Treacy,
keduanya dari MIT. Salah satu hasil penelitian mereka yang
menyatakan bahwa dari 16 perusahaan yang diamati satu dari 3
pejabat puncak – sangat sering CEO – menggunakan sendiri
komputer. Salah satu pendukung komputer yang paling berdedikasi
adalah Ben W. Heineman, CEO dari Northwest Industries.
Istilah Sistem Informasi Eksekutif (SIE) pertama kali muncul dalam
laporan penelitian Rockart dan Treacy. Para peneliti tersebut
menemukan :
•Tujuan sentral : eksekutif menggunakan informasi komputer
terutama dalam perencanaan dan pengendalian.
84
•Inti data bersama : database berisi informasi mengenai berbagai
industri, pelanggan, pesaing dan unit-unit bisnis dalam 3
periode waktu : masa lalu, kini, dan masa depan.
•Dua metode penggunaan utama : eksekutif menggunakan EIS
untuk mengakses status saat ini dan memproyeksikan trend
serta melakukan analisis pribadi atas data.
•Organisasi pendukung : para eksekutif dibantu oleh pelatih EIS
dan sopir EIS. Pelatih EIS adalah anggota staf eksekutif, jasa
informasi atau organisasi konsultasi luar yang menyediakan
bantuan dalam memulai sistem. Sopir EIS adalah anggota staf
eksekutif yang mengoperasikan peralatan bagi eksekutif.
2. Menempatkan Komputer dalam Perspektif
Walau beberapa eksekutif mengandalkan komputer, secara
proporsional lebih sedikit pemakai komputer di tingkat eksekutif
daripada di tingkat lain. Alasannya: (1) masalah pada tingkat eksekutif
kurang terstruktur, oleh sebab itu lebih sulit untuk didukung dengan
pengolah komputer; (2) eksekutif lebih tua dan jarang mendapatkan
kesempatan pelatihan komputer formal.
Pokok-pokok penting dalam pembahasan ini : (1) penggunaan
komputer adalah sesuatu yang pribadi; (2) informasi komputer
hanyalah sebagian dari semua informasi yang mencapai seorang
eksekutif.
3. Saran-saran untuk Memperbaiki Sistem Informasi Eksekutif
Eksekutif harus mengambil langkah-langkah untuk
meningkatkan peran komputer dalam sistem informasi mereka. Ada 5
langkah yang bisa dilakukan :
1) Mencatat transaksi-transaksi informasi yang masuk: data dapat
dimasukkan dalam database dan dapat disiapkan laporan yang
memungkinkan eksekutif menjawab setiap pertanyaan.
2) Merangsang sumber-sumber yang bernilai tinggi: dengan
teridentifikasinya sumber-sumber bernilai tinggi, eksekutif
kemudian dapat bertindak untuk memudahkan komunikasi
sumber-sumber tersebut.
3) Memanfaatkan peluang: jika sepotong informasi yang baik datang
eksekutif harus meraihnya.
4) Menyesuaikan sistem pada perorangan: sesuai penelitian Jones dan
McCleod, tiap eksekutif memiliki gaya pengumpulan informasi yang
unik.
5) Memanfaatkan teknologi : Eksekutif umumnya berpikiran terbuka
mengenai sistem informasi mereka dan akan mempertimbangkan
cara apapun untuk memperbaikinya.
4. Sistem Informasi Eksekutif Berbasis Komputer
Sistem informasi eksekutif (executive information system), atau
EIS, merupakan suatu sistem yang menyediakan informasi bagi
eksekutif mengenai kinerja keseluruhan perusahaan. Informasi dapat
diambil dengan mudah dan dalam berbagai tingkat rincian.
Model EIS
Para eksekutif membangun EIS atas dasar konsep-konsep
manajemen. Ada 3 konsep yang perlu dibahas, yaitu: faktor-faktor
penentu keberhasilan (critical success factors), management by
exception, dan model mental.
•Faktor-faktor penentu keberhasilan
Tahun 1961 D. Donald Daniel dari McKinsey & Company
menciptakan faktor-faktor keberhasilan. Faktor-faktor ini bervariasi
dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Untuk industri
kendaraan bermotor, CSF (critical success factors) yang diyakini
adalah model, jaringan dealer yang efisien, dan pengendalian biaya
manufaktur yang efisien. CSF industri asuransi jiwa adalah
pengembangan personil manajemen agen, pengendalian personil
administratif, dan inovasi menciptakan produk-produk asuransi.
•Management by exception
Tampilan layar yang digunakan eksekutif sering menyertakan
management by exception dengan membandingkan kinerja yang
diharapkan dengan kinerja aktual. Perangkat lunak EIS dapat
mengidentifikasi perkecualian-perkecualian secara otomatis dan
membuatnya diperhatikan oleh eksekutif.
•Model mental
Peran utama EIS adalah membuat sintesis, atau menyarikan data
dan informasi bervolume besar untuk meningkatkan kegunaannya.
Pengambilan sari ini disebut pemampatan informasi (information
compression) dan menghasilkan suatu gambaran atau model mental
dari operasi perusahaan.
Tahun 1973, P.N. Johnson – Lavid menciptakan istilah model
mental, yakni “memungkinkan perorangan untuk membuat
penilaian dan perkiraan, untuk memahami fenomena, untuk
memutuskan tindakan yang perlu diambil dan untuk
mengendalikan pelaksanaannya dan di atas semuanya untuk
mengalami kejadian melalui pengganti (proxy).”
5. Keputusan Penerapan EIS
Untuk menerapkan EIS berbasis komputer, ada 3 pertimbangan
yang perlu dilakukan:
1) Perlukah kita mengembangkan EIS? Jika jawabannya tidak,
eksekutif cukup mengandalkan sistem yang ada sekarang.
2) Jika jawabannya ya; apakah tersedia perangkat lunak produktivitas
perorangan siap pakai (prewritten personal productivity software)
yang memenuhi kebutuhan eksekutif? Jika ada perangkat lunak itu
dibeli.
3) Jika tidak; perlukah kita membeli perangkat lunak EIS siap pakai?
Jika ya, perangkat lunak tersebut dibeli; jika tidak staf jasa
informasi perusahaan menciptakan perangkat lunak EIS pesanan
(custom EIS software).
•Perangkat lunak produktivitas perseorangan siap pakai adalah
S/W umum yang dapat digunakan oleh setiap orang untuk
mengembangkan aplikasi mereka sendiri. Contoh : DBMS, paket
spreadsheet elektronik, paket grafik, sistem manajemen proyek.
•Perangkat lunak EIS siap pakai: khusus dirancang untuk
memenuhi kebutuhan informasi eksekutif.
Contoh S/W awal EIS yang dirancang untuk mainframe adalah
Pilot Executive Software, Inc.dari Boston dan Comshore, Inc. dari
Aum Arbor, Michigan. Sekarang S/W untuk PC sudah banyak ada.
87
6. Faktor-faktor Penentu Keberhasilan EIS
Rockart dan Delong mengidentifikasi 8 faktor penentu
keberhasilan EIS, yaitu :
1) Sponsor eksekutif yang mengerti dan berkomitmen; eksekutif
tingkat puncak, lebih baik CEO, harus berfungsi sebagai sponsor
eksekutif EIS dengan mendorong penerapannya.
2) Sponsor operasi, kalau sponsor eksekutif sibuk dapat diberikan
kepada eksekutif lebih rendah, misal wakil presiden eksekutif.
Sponsor operasi bekerjasama dengan eksekutif pemakai dan
spesialis informasi untuk memastikan pekerjaan itu terlaksana.
3) Staf jasa informasi yang sesuai; tidak saja mengerti teknologi
informasi tetapi juga mengerti cara eksekutif menggunakan sistem
itu.
4) Teknologi informasi yang sesuai; H/W dan S/W tidak lebih dan
tidak kurang.
5) Manajemen data; data harus selalu mutakhir dengan
mengidentifikasi tanggal dan jam dimasukkan dalam sistem. Juga
perlu analisis melalui drill-down – dengan bertanya kepada
manajer data atau keduanya.
6) Kaitan yang jelas dengan tujuan bisnis; EIS harus berhasil
memecahkan masalah-masalah spesifik/untuk memenuhi
kebutuhan yang dapat ditangani teknologi informasi.
7) Manajemen atas penolakan organisasi. Jika seorang eksekutif
menolak EIS, perlu upaya untuk mendapatkan dukungan. Untuk
itu perlu identifikasi masalah tanggal tersebut, kemudian
menerapkan EIS dengan prototyping untuk mengatasi masalah
tersebut.
8) Manajemen atas penyebaran dan evolusi sistem; jika manajemen
tingkat atas mulai menerima informasi dari EIS, manajer tingkat
bawah ingin menerima output yang sama.
7. Trend EIS Masa Depan
•Penggunaan EIS di perusahaan besar akan menjadi umum.
•Terdapat kebutuhan akan perangkat lunak EIS khusus berharga
murah.
•SIM dan DSS masa depan akan tampak seperti EIS masa kini.
•Eksekutif akan menjaga komputer dalam perspektif.

SISTEM INFORMASI ORGANISASIONAL

SISTEM INFORMASI ORGANISASIONAL

Fitur fitur Umum Organisasi
Organisasi adalah birokrasi yang memiliki fitur-fitur “struktural” tertentu. Birokrasi yaitu organisasi formal yang memiliki pembagian yang jelas mengenai tenaga kerja, prosedur, dan aturan abstrak, dan pengambilan keputusan yang bersifat netral yang menggunakan kualifikasi teknis dan profesionalisme sebagai dasar kenaikan pangkat karyawan.
Karakteristik struktural semua organisasi :

1. pembagian tenaga kerja secara jelas
2. hierarki
3. prosedur dan aturan yang eksplisit
4. keputusan-keputusan yang bersifat netral
5. dasar kualifikasi teknis untuk posisi jabatan
6. efisiensi organisasi maksimum

Rutinitas Dan Proses Bisnis
Organisasi memiliki kegiatan menyerap sumberdaya , mengolah serta memproduksi. rutinitas, merupakan SOP (Standar Operating Procedures) yang biasanya terdiri dari aturan, prosedur serta praktik yang telah dikembangkan untuk memenuhi keadaan yang diharapkan. Proses bisnis, merupakan sekumpulan dari rutinitas. Dengan mengamati proses bisnis kita akan dapat melihat/memahami bagaimana bisnis dalam perusahaan bekerja.

System informasi terkait dengan politik organisasi karena mempengaruhi akses ke sumber utama, yaitu informasi. System informasi berpotensi mengubah struktur, budaya, politik, dan kerja organisasi. Alasan paling umum dari kegagalan proyek-proyek besar mengarah kepada hambatan perubahan politikal dan organisasional.

Prosedur standar pengoperasian, aturan-aturan, prosedur dan praktik-praktik yang seksama yang dikembangkan oleh organisasi untuk dapat mencakup semua situasi yang mungkin dihadapi.

Politik organisasi, perbedaan-perbedaan ini menjadi persoalan bagi manajer dan karyawan, dan hasilnya adalah pergolakan politik, persaingan, dan konflik di dalam organisasi. Hambatan politik adalah salah satu dari sekian banyak kesulitan terbesar untuk membawa perubahan organisasi, khususnya perkembangan sistem informasi yang baru.

Kultur organisasi adalah kumpulan asumsi fundamental seperti itu mengenai produk apa yang harus dihasilkan organisasi, bagaimana prosesnya, di mana, dan untuk siapa.
Blog dengan ID 26250 Tidak ada

Fitur fitur Khusus Organisasi
Fitur-fitur khusus organisasi meliputi struktur, sasaran, konstituensi, gaya kepemimpinan, tugas-tugas, dan lingkungan sekitar yang berbeda.

A. Tipe Organisasi

Struktur pengusaha, struktur sederhana dan dikelola oleh pengusaha yang bertindak sebagai direktur pelaksana tunggal. Contoh bisnis kecil baru.

Birokrasi mesin, birokrasi besar yang ada di lingkungan yang lambat berubah, menghasilkancommon Organisasi, semua organisasi memiliki beberapa fitur "struktural" serupa.
Birokrasi divisional, kombinasi dari bergam birokrasi mesin, masing-masing menghasilkan produk dan layanan yang berbeda, semuadikendalikan dari kantor pusat. Contohnya Perusahaan-perusahaan Fortune 500.

Birokrasi professional, organisasi berbasis pengetahuan di mana bentuk barrang-barang produksi dan jasa tergantung pada keahlian dan pengetahuan para professional. Contohnya perusahaan hukum, rumah sakitadhokrasi, organisasi ‘satuan tugas’ yang harus merespon lingkungan yang berubah dengan pesat. Misalnya perusahaan konsulatan.

B. Lingkungan

Organisasi dan lingkungan memiliki hubungan timbal balik. Pada satu sisi, organisasi terbuka dan bergantung pada lingkungan social dan fisik disekitarnya. Di sisi lain, organisasi bias mempengaruhi lingkungannya. Perbedaan-perbedaan lain diantara organisasi antara lain :

Sasaran utama yang hendak dicapai dan tipe kekuatan yang digunakan untuk mencapainya. Ada yang menggunakan sasaran koersif (penjara) dan sasaran praktis (bisnis). Ada juga yang menggunakan sasaran normative (universitas).

Organisasai melayani kelompok dan memiliki wilayah yang beragam, sebagian memberi keuntungan bagi anggotanya, sebagian lagi memberikan keuntungan kepada klien, pemegang saham atau publiknya.

Sifat kepemimpinan dari tiap-tiap organisasi sangat berbeda satu sama lain. Satu organisasi mungkin cenderung demokratis atau otoriter daripada lainnya.

Tugas-tugas yang dijalankan dan teknologi yang digunakan. Sebagian organisasi menjalankan tugas-tugas rutin utama yang bias dikurangi menjadi aturan-aturan formal yang memerlukan sedikit keputusan, sementara yang lainnya memiliki tugas utama nonrutin.

PERUBAHAN SISTEM INFORMASI DALAM ORGANISASI

(a) Infrastruktur Teknologi Informasi dan Layanan Teknologi Informasi
Salah satu cara agar organisasi bisa mempengaruhi bagaimana teknologi informasi digunakan yaitu melalui keputusan-keputusan mengenai konfigurasi teknis dan organisasional dari system, siapa yang akan mendesain, membangun dan memelihara infrastruktur IT organisasi. Uniot yang bertanggung jawab memelihara layanan teknologi (hardware, software, data storage, dan network) disebut departemen system informasi.

Departemen system informasi terdiri dari para ahli, seperti programmer, analis system. Pemimpin proyek, dan manajer system informasi. Programmer adalah ahli teknis terlatih yang membuat instruksi perangkata lunak pada computer. Analis system bertugas menyususn hubungan antar kelompok system informasi dan kelompok-kelompok lain dalam organisasi. Manajer system informasi adalah pemimpin dari beragam ahli pada departemen system informasi.

Selain itu ada juga Chief information officer (CIO) dan end-user. CIO tergolong manajer senior yang bertugas mengepalai fungsi system informasi di dalam perusahaan. Sedangkan end-user adalah perwakilan di luar kelompok system informasi sebagai objek sasaran pengembangan aplikasi.

(b) Bagaimana system informasi mempengaruhi organisasi

Teori ekonomi.

* IT mengganti biaya modal dan biaya informasi
* Teknologi system informasi merupakan factor produksi seperti halnya modal dan tenaga kerja
* Teori biaya transaksi menyatakan bahwa perusahaan berusaha mengurangi biaya transaksi.
* IT membantu perusahaan menekan biaya transaksi. Jika biaya transaksi menurun, jumlah karyawan juga mengecil karena semakin murah dan mudah bagi perusahaan untuk membuat kontrak pembelian barang-barang dan jasa di pasar disbanding membuat sendiri produk dan jasanya.
* Teori agensi mengatakan perusahaan memiliki ikatan kontrak di antara bagian-bagian yang harus diawasi dan dikelola.
* IT bias mengurangi biaya agensi, memungkinkan perusahaan untuk tumbuh tanpa menambah biaya pengawasan, dan tanpa menambah tenaga kerja.

Teori Behavioral

* IT membuat organisasi lebih ramping.
* IT mampu mengubah hierarki pengambilan keputusan dengan menekan biaya informasi
* memperluas distribusi informasi
* mempercepat proses pengambilan keputusan
* memfasilitasi pekerja tingkat-bawah untuk membuat keputusan tanpa pengawasan dan meningkatkan efisiensi manajemen
* Rentang pengendalian perusahaan juga akan meningkat

Pada organisasi postindustri, otoritas meningkat bergantung pada pengetahuan dan kompetensi. Jadi, bentuk menjadi ramping karena para pekerja professional cenderung berciri self-managing; dan pengambilan keputusan menjadi lebih terdessentralisasi sementara pengetahuan dan informasi semakin tersebar secara luas.

Teknologi informasi mendorong jaringan task force organisasi dimana kelompok-kelompok professional bertemu baik langsung maupun melalui media elektronik untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Hal ini mengarah pada organisasi virtual, yaitu organisasi yang memanfaatkan jaringan untuk menghubungkan orang, asset, dan gagasan dalam menciptakan dan mendistribusikan produk dan layanan tanpa terbatasi oleh batasan-batsan tradisional organisasi atau lokasi fisik.

System informasi terkait dengan politik organisasi karena mempengaruhi akses ke sumber utama, yaitu informasi. System informasi berpotensi mengubah struktur, budaya, politik, dan kerja organisasi. Alasan paling umum dari kegagalan proyek-proyek besar mengarah kepada hambatan perubahan politikal dan organisasional.
(c) Internet dan Organisasi
Internet meningkatkan aksesbilitas, penyimpanan, dan distribusi informasi dan pengetahuan untuk organisasi. Internet mampu secara dramatis menekan biaya transaksi dan agensi. Bisnis secara cepat membangun kembali sebagian proses bisnis intinya melalui teknologi internet dan menjadikan teknologi ini sebagai komponen pokok bagi infrastruktur teknologi informasi. Jika jaringan lebih dimanfaatkan secara efisien, hasilnya berupa proses bisnis lebih mudah dilakukan, karyawan yang dibutuhkan lebih sedikit, dan organisasi menjadi lebih ramping daripada waktu lalu.

MANAJER, PENGAMBILAN KEPUTUSAN, DAN SISTEM INFORMASI

Peran manajer dalam organisasi
Tanggung jawab seorang manajer meliputi pengambilan keputusan, membuat laporan, menghadiri pertemuan, mengatur perayaan-perayaan. Untuk lebih memahami fungsi-fungsi manajerial dan perannya kita bias meneliti mdel-model klasik dan kontemporer dari perilaku manajerial.

Model klasik manajemen, deskripsi tradisional dari manajemen yang berfokus pada fungsi-fungsi formal dari manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pengambilan keputusan, dan pengendalian. Model behavioral mendeskripsikan manajemen berdasar observasi dari apa yang sesungguhnya dilakukan oleh manajer dalam pekerjaan.

Peran manajerial adalah aktivitas yang harus dijalankan manajer dalam esbuah organisasi. Dikategorikan menjadi: interpersonal, informasional, dan desicional. Peran interpersonal ditujukan untuk peran manajerial di mana manajer bertindak sebagai figure kepala dan pemimpin organisasi. Peran informasional lebih mengacu kearah peran manajerial di mana manjer menjadi pusat nadi organisasi, menerima dan menyebarkan informasi penting. Sedangkan peran desicional lebih kepada peran manajerial dimana manajer menginisiasi aktivitas, menangani kesulitan, mengalokasikan sumber-sumber, dan menegosiasikan konflik.

Manajer dan pengambilan keputusan
System informasi telah membantu manajer untuk mengkomunikasikan dan mendistribusikan informasi, namun hanya memberi bantuan terbatas untuk pengambilan keputusan manajemen.
Model pengambilan keputusan :

* model rasional, model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan niali, yang seacra mendasar konsisten
* model organisasional, model-model pengambilan keputusan yang memperhitungkan karakteristik politik dan structural dari organisasi
* model birokrasi, Apa pun yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas dan adanya proses bisnis yang terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun-tahun

Implikasi bagi Desain dan Pemahaman Sistem Informasi
Faktor yang perlu dipertimbangkan ketika merencanakan sebuah sistem baru:

* Lingkungan dimana organisasi harus berfungsi
* Struktur organisasi: hirarki, spesialisasi, rutinitas, dan proses bisnis
* budaya dan politik Organisasi
* Jenis organisasi dan gaya kepemimpinan
* Kelompok-kelompok utama terkait yang mempengaruhi sistem dan sikap pekerja yang akan menggunakan sistem tersebut
* Jenis-jenis tugas, keputusan, dan proses bisnis yang dirancang untuk membantu sistem informasi

Karakteristik untuk diingat ketika Merancang Systems:

1. Fleksibilitas dan beberapa pilihan untuk mengevaluasi penanganan data dan informasi
2. Kemampuan untuk mendukung berbagai gaya, keterampilan, dan pengetahuan manajemen.
3. Kemampuan untuk melacak banyak alternatif dan konsekuensi
4. Kepekaan terhadap birokrasi organisasi dan persyaratan politik


SISTEM INFORMASI DAN STRATEGI BISNIS
Sistem informasi strategis, sistem komputer yang digunakan level organisasi untuk mengubah sasaran, pengoperasian, produk, jasa, atau relasi lingkungan untuk membantu organisai meraih keunggulan kompetitif.
Keputusan strategi bisnis dari perusahaan tergantung pada:

* Produk dan jasa yang dhasilkan perusahaan
* Industri di mana perusahaan bersaing
* Pesaing, pemasok, dan pelanggan dari perusahaan
* Tujuan jangka panjang dari perusahaan

Strategi level Bisnis: Model Rantai Nilai
Strategi yang paling umum untuk level ini adalah:

1. menjadi penghasil produk dengan biaya produksi yang rendah
2. mendiferensiasikan produk dan jasa
3. mengubah lingkup persaingan baik dengan cara memperluas pasar sampai ke pasar global maupun dengan mempersempit pasar.

Model rantai nilai, model yang memberi perhatian pada aktivitas primer dan pendukung yang menambah nilai bagi produk dan jasa perusahaan di mana sistem informasi paling baik diterapkan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.
Aktivitas primer yaituaktivitas yang langsung berhubungan dengan produksi dan distribusi produk perusahaan atau jasa. Sedangkan aktivitas pendukung adalah aktivitas yang memungkinkan pelaksanaan aktivitas primer. Terdiri dari infrastruktur organisasi, sumber daya manusia, teknologi, dan pengadaan.
Nilai web mengacu ke jaringan pelanggan-terkendali pada perusahaan yang memanfaatkan teknologi informasi untuk mengkoordinasikan rantai nilainya agar secara kolektif menghasilkan produk atau jasa kepada pasar.

SUATU MODEL SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

SUATU MODEL SISTEM INFORMASI
BERBASIS KOMPUTER



1. Model dari Computer Based Information System (CBIS)
Manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah
dengan menggunakan informasi. Informasi disajikan secara lisan
atau tulisan oleh suatu pengolah informasi. Porsi komputer dalam
pengolah informasi terdiri dari tiap area aplikasi yang berbasis
komputer – SIA, SIM, DSS, OA, dan ES. Sistem informasi berbasis
komputer (computer-based information system) atau CBIS
digunakan untuk menggambarkan lima subsistem yang
menggunakan komputer

2. Organisasi Jasa Informasi
Perusahaan-perusahaan yang menggunakan komputer menyadari
perlunya membentuk unit-unit organisasional tersendiri yang
terdiri dari para spesialis yang bertanggung jawab menerapkan
sistem. Para spesialis informasi (information specialist) adalah
pegawai perusahaan yang sepenuh waktu bertanggung jawab
mengembangkan dan memelihara sistem berbasis komputer.

Ada 5 spesialis informasi :

1) Analis sistem (System Analyst), bekerjasama dengan pemakai
mengembangkan sistem baru dan memperbaiki sistem yang
ada sekarang.

2) Pengelola database (Database administrator), bekerjasama
dengan pemakai dan analis sistem menciptakan database yang
berisi data yang diperlukan untuk menghasilkan informasi bagi
pemakainya.

3) Spesialis jaringan (Network specialist), bekerjasama dengan
analis sistem dan pemakai membentuk jaringan komunikasi
data yang menyatukan berbagai sumberdaya komputer yang
tersebar.

4) Programer, menggunakan dokumentasi yang disediakan oleh
analis sistem untuk membuat kode instruksi-instruksi yang
menyebabkan komputer mengubah data menjadi informasi
yang diperlukan.

5) Operator, mengoperasikan peralatan komputer berskala besar
seperti mainframe dan komputer mini.

3. Pengelolaan CBIS
Kecenderungan menuju End-User Computing
End-User Computing (EUC) adalah pengembangan seluruh atau
sebagian sistem berbasis komputer oleh para pemakai.
End-User Computing berkembang karena :

a) Meningkatnya pengetahuan tentang komputer, berbagai
tingkatan manajemen, mulai tingkat bawah diisi orang-orang
yang menguasai komputer dengan baik.

b) Antrian jasa informasi, para spesialis informasi selalu memiliki
lebih banyak pekerjaan dengan yang dapat mereka tangani.
Pemakai ingin mendapat layanan cepat.

c) Perangkat keras yang murah.

d) Perangkat lunak jadi; menawarkan dukungan peningkatan dan
kemudahan penggunaan, dan memampukan perusahaan dan
pemakai individu dengan sedikit atau tanpa keahlian komputer
untuk menerapkan sistem berbasis komputer.

Mencapai CBIS
Dalam beberapa hal, tiap subsistem dari CBIS menyerupai
suatu organisme hidup-lahir, bertumbuh, menjadi matang,
berfungsi dan akhirnya mati. Proses evolusioner ini disebut
“Siklus kehidupan sistem” (system life cycle – CLC) dan terdiri
dari tahapan : perencanaan, analisis, rancangan, penerapan, dan
penggunaan.
Siklus ini mungkin berlangsung beberapa bulan, atau
mungkin berlangsung beberapa tahun.
Berbagai peran manajer dan spesialis informasi selama siklus
hidup sistem.

SIKLUS HIDUP SISTEM

SIKLUS HIDUP SISTEM
(SYSTEMS LIFE CYCLE)

General Systems Life Cycle (GSLC)

Merupakan fase-fase utama (general) yang terjadi pada semua sistem, baik
sistem biologis, fisikal, sosial ataupun sistem lainnya. Adapun fase-fase
tersebut terbagi dalam empat fase, yaitu :
a. Development (introduction)
b. Growth
c. Maturity
d. Deterioration (decline)
Apabila digambarkan, GSLC akan terlihat seperti berikut :


|
| +---------------+\
| /: : \
| / : : \
| / : : \
| / : : \
| / : : \
| / : :
| /--------+/ : :
| / I : II : III : IV
|/ : : :
+---------------------------------------------------------------
Development Growth Maturity Deterioration

Information Systems Life Cycle (ISLC)

Merupakan fase-fase utama (general) yang terjadi pada sistem informasi.
Adapun fase-fase tersebut terbagi dalam empat fase, yaitu :
a. Systems Development (Design)
b. Systems Implementation
c. Systems Operation (Maintenance)
d. Systems Obsolescence
Apabila digambarkan, ISLC akan terlihat seperti berikut :

|
| +---------------+\
| /: : \
| / : : \
| / : : \
| / : : \
| / : : \
| / : :
| /--------+/ : :
| / I : II : III : IV
|/ : : :
+---------------------------------------------------------------
Systems Systems Systems Operation Systems
Development Implementation (Maintenance) Obsalescence
(Design)

Systems Development Life Cycle (SDLC)

SDLC berfungsi untuk menggambarkan tahapan-tahapan utama dan langkah-langkah
dari setiap tahapan yang secara garis besar terbagi dalam tiga kegiatan
utama, yaitu :
a. Analysis
b. Design
c. Implementation
Setiap kegiatan dalam SDLC dapat dijelaskan melalui tujuan (purpose) dan
hasil kegiatannya (deliverable).
Apabila kegiatan utama tersebut dijabarkan ke dalam langkah-langkah yang
lebih rinci dapat digambarkan seperti berikut :

+---------------------------------------------------------------------+
: ANALYSIS : DESIGN : IMPLEMENTATION :
+---------------------------------------------------------------------+
: :
+---------------+ : :
+-->: Problem : : :
| : Detection : : :
| +---------------+ +-----------+ +-----------+
+---------> | | : | | : |
| +---------------+ | : +---------------+ | : +---------------+
| : Initial : | : : Output : | : : Programming / :
| : Investigation : | : : : | : : test :
| +---------------+ | : +---------------+ | : +---------------+
+---------> | | : | | : |
| +---------------+ | : +---------------+ | : +---------------+
| : Requirements : | : : Input : | : : Training / :
| : Analysis : | : : : | : : Other :
| +---------------+ | : +---------------+ | : +---------------+
+---------> | | : | | : |
+---------------+ | : +---------------+ | : +---------------+
: Generation of : | : : Files :--+ : : System :
: Alternatives : | : : : : : Change Over :
+---------------+ | : +---------------+ : +---------------+
| | : :
+---------------+ | : :
: Selection of :--+ : :
: Proper System : : :
+---------------+ : :




ANALYSIS
Dalam tahap analisis ini, digunakan oleh analis sistem untuk :
a. Membuat keputusan apabila sistem saat ini mempunyai masalah atau sudah
tidak berfungsi secara baik dan hasil analisisnya digunakan sebagai dasar
untuk memperbaiki sistem
b. Mengetahui ruang lingkup pekerjaannya yang akan ditanganinya.
c. Memahami sistem yang sedang berjalan saat ini
d. Mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap analisis ini adalah :

1. Problem detection
a. Tujuan : Mendeteksi sistem, apabila sistem saat ini semakin
berkurang manfaatnya (memburuk).
b. Hasil : Laporan pendahuluan tentang permasalahan yang terjadi
dalam sistem.

2. Initial investigation
a. Tujuan : Memerikan sistem saat ini dengan penekanan pada daerah-
daerah yang menimbulkan permasalahan.
b. Hasil : Penjelasan sistem saat ini.

3. Requirement analysis (determination of ideal systems)
a. Tujuan : Mendapatkan konsensus dari komunitas pemakai dari sistem
informasi yang ideal. Sebuah penggantian sistem akan
menimbulkan jarak antara sistem saat ini dengan sistem
yang ideal (yang mengacu ke komputerisasi).
b. Hasil : Penjelasan kebutuhan analisis terhadap sistem.

4. Generation of system alternatives
a. Tujuan : Menggali (explore) perbedaan dari alternatif sistem dalam
mengurangi jarak (gap) antara sistem saat ini dengan
sistem idealnya.
b. Hasil : Dokumen-dokumen tentang alternatif sistem yang akan
digunakan untuk memperbaiki sistem.


5. Selection of proper system
a. Tujuan : Membandingkan alternatif-alernatif sistem dengan
menggunakan metodologi terstruktur, memilih alternatif
sistem yang paling baik, dan menjualnya (sell) kepada
management.
b. Hasil : Hasil-hasil dari studi sistem.

DESIGN
Dalam tahap perancangan (desgin) memiliki tujuan, yaitu untuk :
a. Mendesain sistem baru yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi perusahaan yang diperoleh dari pemilihan alternatif sistem yang
terbaik.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perancangan ini adalah :

6. Output design
a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk laporan sistem dan dokumennya.
b. Hasil : Bentuk (forms) dari dokumentasi keluaran (output).

7. Input design
a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk masukan didokumen dan dilayar ke
sistem informasi.
b. Hasil : Bentuk (forms) dari dokumentasi masukan (input).

8. File design
a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk file-file yang dibutuhkan dalam
sistem informasi.
b. Hasil : Bentuk (forms) dari dokumentasi file.

IMPLEMENTATION
Dalam tahap implementasi memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk :
a. Melakukan kegiatan spesifikasi rancangan logikal ke dalam kegiatan yang
sebenarnya dari sistem informasi yang akan dibangunnya atau dikembangkannya.
b. Mengimplementasikan sistem yang baru.
c. Menjamin bahwa sistem yang baru dapat berjalan secara optimal.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap implementasi ini adalah :

9. Programming & testing
a. Tujuan : Mengkonversikan perancangan logikal ke dalam kegiatan
operasi coding dengan menggunakan bahasa pemograman
tertentu, dan mengetest semua program serta memastikan
semua fungsi / modul program dapat berjalan secara benar.
b. Hasil : Coding program dan spesifikasi program.

10.Training
a. Tujuan : Memimpin (conduct) pelatihan dalam menggunakan sistem,
persiapan lokasi latihan dan tugas-tugas lain yang
berhubungan denganp pelatihan (buku-buku panduan sistem).
b. Hasil : Rencana pelatihan sistem, modul-modul katihan dan
sebagainya.

11. System changeover
a. Tujuan : Merubah pemakaian sistem lama ke sistem bari dari sistem
informasi yang berhasil dibangun.Perubahan sistem merupakan tanggung jawab team designer ke pemakai siste (user organization).
b. Hasil : Rencana (jadwal dan metode) perubahan sistem (contract).



Daftar Pustaka


1. Davis, William S., Systems Analysis And Design : A Structured Approach,
Addison-Wesley Publishing Company, 1983.
2. HM., Yogiyanto, Analisis dan Disain Sistem Informasi : Pendekatan
Terstruktur, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
3. Martin, Merle P., Analysis And Design of Business Information Sytems,
Macmillan Publishing Company, New York, 1991.

Model sistem umum perusahaan

Model sistem umum perusahaan


Definisi Model : penyederhanaan dari suatu objek.
Model mewakili sejumlah objek atau aktifitas yang disebut entitas.

JENIS-JENIS MODEL :
1. Model Fisik ; penggambaran entitas dalam bentuk 3 dimensi.
2. Model Naratif ; menggambarkan entitas secara lisan atau tulisan.
3. Model Grafik ; menggambarkan entitas dengan sejumlah garis atau symbol.
4. Model matematika ; sebagian besar perhatian dalam pembuatan bisnis (business modeling) saat ini tertuju pada model matematika. Keunggulannya, ketelitian dalam menjelaskan hubungan antara berbagai bagian dari suatu objek.

KEGUNAAN MODEL :
1. Mempermudah Pengertian, suatu model pasti lebih sederhana dari pada entitasnya. Entitas lebih mudah dimengerti jika elemen-elemennya dan hubungannya disajikan dalam cara yang sederhana.
2. Mempermudah Komunikasi, setelah problem solver mengerti entitasnya, pengertian itu sering pula dikomunikasikan pada orang lain.
3. Memperkirakan Masa Depan, ketelitian dalam menggambarkan entitas membuat model matematika dapat memberikan kemampuan yang tidak dapat disediakan model-model jenis lain.

“MODEL SISTEM UMUM”
1. Sistem Fisik, merupakan sistem terbuka, yang berhubungan dengan lingkungannya melalui arus sumber daya fisik.

Arus sumber daya fisik yang mengalir :
1. Arus material.
2. Arus personil.
3. Arus mesin.
4. Arus uang.
Informasi Informasi

Sistem Fisik Perusahaan sebagai system yang terkendali
2. Sistem Konseptual,
Sebagian sistem terbuka dapat mengendalikan operasinya sendiri, sebagian lagi tidak. Pengendalian ini dapat dicapai dengan menggunakan suatu lingkaran yang disebut “Lingkaran Umpan Balik” yang menyediakan suatu jalur bagi sinyal-sinyal dari sistem ke mekanisme pengendalian begitu pula sebaliknya.
a. Sistem Lingkaran Terbuka.
b. Sistem Lingkaran Tertutup.

Pengolah Informasi; Perjalanan informasi tidak selalu dari sistem fisik kepada manajer. Para manajer memperoleh informasi dari sistem yang menghasilkan informasi dari data yang terkumpul.

DIMENSI – DIMENSI INFORMASI
Saat para manajer menentukan output yang harus disediakan para pengolah informasi, mereka mempertimbangkan 4 dimensi dasar informasi :
1. Relevansi.
2. Akurasi.
3. Ketepatan waktu.
4. Kelengkapan.
Manajer adalah orang yang terbaik untuk menentukan dimensi-dimensi informasi yang ia perlukan. Jika perlu analis sistem dapat membantu manajer mendekati tugas ini secara logis.
Manajer menggunakan standar untuk mengendalikan sistem fisik dengan kinerja actual.
“Sistem konseptual yang mengendalikan sistem fisik terdiri dari 3 elemen penting : manajer, pengolah informasi dan standar”
Standar dikombinasikan dengan output informasi dari pengolah informasi, memungkinkan manajer untuk melaksanakan “management by exception” (suatu gaya yang diikuti manajer, yaitu manajer terlibat dalam aktifitas hanya jika aktifitas itu menyimpang dari kinerja yang dapat diterima).
Management by Exception memberikan 3 keuntungan dasar :
1. Manajer tidak membuang waktu memantau aktifitas yang berlangsung secara normal.
2. Karena lebih sedikit keputusan yang dibuat, tiap keputusan dapat menerima perhatian lebih menyeluruh.
3. Perhatian dipusatkan pada peluang-peluang, maupun pada hal-hal yang tidak berjalan semestinya.

Namun, terdapat pula sejumlah kendala yang harus diketahui :
1. Beberapa kinerja bisnis tertentu tidak mudah ditentukan secara kuantitas sehingga standar tidak dapat ditetapkan.
2. Suatu sistem informasi yang memantau kinerja secara akurat sangat diperlukan.
3. Perhatian harus terus diarahkan pada standar untuk menjaga standar pada tingkat yang tepat.
4. Manajer tidak boleh menjadi pasif dan hanya menunggu batas kinerja dilewati.
Konsep manajemen yang serupa dengan Management by Exception disebut Critical Success Factor. CSF adalah salah satu kegiatan perusahaan yang berpengaruh kuat pada kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya.

Arus Keputusan, data diubah menjadi informasi oleh pengolah informasi, dan informasi diubah menjadi keputusan oleh manajer. Pengolah informasi dan manajer bekerja sama untuk mengubah data menjadi keputusan.
PENDEKATAN SISTEM
Manajer terlibat dalam pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan yang efektif dan efisien.
Sistem Konseptual adalah suatu sistem pemecahan masalah yang terdiri dari manajer, informasi dan standar. 2 elemen lain masuk dalam proses perubahan masalah menjadi solusi (solusi alternatif dan kendala).

TAHAPAN PEMECAHAN MASALAH DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM
1. Usaha Persiapan
Memandang perusahaan sebagai suatu sistem.
Mengenal sistem lingkungan.
Mengidentifikasi subsistem perusahaan.

2. Usaha Definisi
Bergerak dari tingkat sistem ke subsistem.
Tujuannya : mengidentifikasi tingkat sistem tempat persoalan berada.
Menganalisis bagian-bagian sistem dalam suatu urutan tertentu :
1. Mengevaluasi standar.
2. Membandingkan output dengan standar.
3. Mengevaluasi manajemen.
4. Mengevaluasi pemroses informasi.
5. Mengevaluasi input dan sumber daya input.
6. Mengevaluasi proses.
7.Mengevaluasi sumber daya output.

3. Usaha Persiapan
Pertimbangan alternatif yang layak.
Mengevaluasi berbagai solusi alternatif.
Memilih solusi terbaik.
Menerapkan solusi.
Memastikan bahwa solusi tersebut efektif.

FAKTOR MANUSIA YANG MEMPENGARUHI PEMECAHAN MASALAH
3 Kategori manajer dalam merasakan masalah :
1. Penghindar masalah (Problem Avoider), manajer mengambil sikap positif dan menganggap semua baik-baik saja.ia berusaha menghalangi kemungkinan masalah dengan mengabaikan informasi.
2. Mengumpulkan Informasi/Pencari masalah (Problem Seeker)) :
a. Gaya teratur, mengikuti gaya management by exception dan menyaring segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan area minatnya.
b. Gaya menerima, manajer jenis ini ingin melihat semuanya, kemudian menentukan apakah informasi tersebut bernilai baginya/orang lain dalam organisasi.
3.Menggunakan informasi untuk memecahkan masalah/Pemecah masalah
( Problem solver) :
a. Gaya sistematik, manajer memberi perhatian khusus untuk mengikuti suatu metode yang telah ditetapkan. Co. : pendekatan sistem.
b. Gaya intuitif, manajer tidak menyukai suatu metode tertentu tetapi menyesuaikan pendekatan dengan situasi.



http://www.kaskus.us/blog.php?b=21481

KONSEP SISTEM

KONSEP SISTEM DATA

Banyak organisasi yang ingin membangun sistem Informasi Manajemennya sendiri, dan telah menyediakan dana yang cukup, tetapi ternyata usaha tersebut sering kali gagal. Penyebabnya antara lain ialah: struktur organisasi keseluruhan yang kurang wajar, rencana organisasi keseluruhan yang belum memadai, personil sistem yang tidak memadai, dan yang terpenting adalah kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.
Sebelum membahas konsep sistem Informasi Manajemen lebih lanjut, berikut ini akan diberikan definisi ringkas dan formal dari sistem Informasi Manajemen yaitu: “serangkaian sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi yang secara rasional mampu menstransformasikan data sehingga menjadi informasi dengan berbagai cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer”. Dari definisi tersebut ada beberapa point yang perlu diuraikan lebih lanjut:
1. Sistem Informasi Manajemen memiliki sub-sistem informasi. Sistem Informasi Manajemen adalah serangkaian sub-sistem, dimana sub-sistem tersebut mendukung tercapainya sasaran Sistem Informasi Manajemen dan organisasi sebagian dari sub-sistem berperan hanya dalam satu kegiatan atau lapisan manajemen, sementara yang lainya berperan ganda.
2. Sistem Informasi Manajemen adalah menyeluruh. Sebuah Sistem Informasi Manajemen mencakup sistem informasi formal maupun informal baik yang manual maupun berkomputer. Komponen yang terpenting dalam Sistem Informasi Manajemen adalah manajer yang pikirannya akan memproses dan menyebarkan informasi secara berinteraksi dengan elemen-elemen lain dari Sistem Informasi Manajemen.
3. Sistem Informasi Manajemen adalah terkoordinasi. Sistem Informasi Manajemen di koordinasikan secara terpusat untuk menjamamin bahwa data yang di proses dapat di operasikan secara terencana dan terkoordinasi. Semuanya untuk menjamin bahwa informasi melewati dan menuju sub-sistem yang diperlukan, serta menjamin bahwa sistem informasi bekerja secara efisien.
4. Sistem Informasi Manajemen terintegrasi secara rasional. Sub-sistem dalam Sistem Informasi Manajemen adalah terintegrasi (terpadu) sehingga kegiatan dari masing-masing saling berkaitaan satu dengan yang lainnya, integrasi ini dilakukan terutama dengan melewatkan data diantara sub-sistem tersebut.
5. Sistem Informasi Manajemen mentransformasikan data kedalam informasi. Apabila data diolah dan berguna bagi manajer untuk tujuan tertentu, maka ia akan menjadi informasi.
6. Sistem Informasi Manajemen meningkatkan produktivitas. Sistem Informasi Manajemen dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas, antara lain: dengan kemampuan melaksanakan tugas rutin seperti penyajian dokumen dengan efisien, mampu memberikan layanan bagi organisasi intern dan ekstern, serta mampu meningkatkan kemampuan manajer untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak terduga.
7. Sistem Informasi Manajemen sesuai dengan gaya manajer Sistem Informasi Manajemen dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manajerial dari personil yang akan menggunakannya. Para perancang sistem apabila akan mengembangkan Sistem Informasi Manajemen hendaknya mempertimbangkan faktor manusiawi dengan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem yang dihasilkan tidak efektif.
Secara teoritis, komputer bukanlah persyarat mutlak bagi sebuah Sistem Informasi Manajemen, namun dalam praktek agaknya menjadi suatu kepercayaan bahwa Sistem Informasi Manajemen yang baik tidak akan berjalan lancar tanpa bantuan kemampuan sebuah komputer.
Semua sistem Informasi memiliki 3 (tiga) unsur atau kegiatan utama, yaitu :
1. Menerima data sebagai masukan ( input)
2. Memproses data dengan melakukan perhitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran perkiraan dan lain-lain.
3. Memperoleh informasi sebagai keluaran (output).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah sistem informasi dan memproses data, dan kemudian mengubahnya menjadi informasi.
Sistem pengolahan data yang tugas utamanya memproses transaksi, khususnya pada tingkat operasional. berbagai input transaksi yang berasal dari 2 (dua) sumber, yaitu: dari luar dan dalam organisasi.
Sistem informasi dari suatu organisasi tidak akan pernah dapat diotomatisasikan sepenuhnya atau menyeluruh. Namun demikian suatu sistem informasi manajemen sangat mungkin dan praktis apabila didasarkan pada rencana keseluruhan yang bagus serta dikembangkan oleh personil sistem yang terlatih, untuk itu diperlukan partisipasi manajemen dan sumber keuangan yang memadai.
Sistem informasi yang melayani tugas utama organisasi harus bersifat silang fungsional dan harus terus-menerus diperbaiki demi menjaga kesinambungan efektivitasnya. Tugas utama organisasi seringkali dilayani oleh sistem penopang keputusan/decision support system (DSS) yang didalamnya berisi model, database dan manajer yang berinteraksi langsung.
Integrasi sistem informasi merupakan salah satu konsep kunci dari sistem informasi manajemen. Berbagai sistem dapat saling berhubungan satu dengan yang lain dengan berbagai cara yang sesuai dengan keperluan integrasinya. Sebagian besar organisasi akan memperoleh kemanfaatan yang besar dari meningkatnya derajat integrasi sistem informasi yang mereka miliki.
Interaksi antara manajer dan mesin adalah kaitan antara manajer dan mesin, yaitu suatu titik dimana mereka bisa saling “berkomunikasi” secara tradisional sistem komputer masih sering membuat para manajer “frustasi”, tetapi dengan adanya perkembangan baru, seperti bahasa produktivitas, pelatihan (training), agaknya cukup membantu memecahkan masalah ini.

sumber : buku Edisi I “Principles of Management Information System” yg diterjemahkan oleh Achmad Nashir Budiman terbitan PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.

wayang ukur

Wayang Ukur

1. Definisi Wayang Ukur
Wayang Ukur, diciptakan oleh Ki Sigit Sukasman (seniman) asal Yogyakarta (1964) yang ceriteranya diambil dari Mahabarata dan Ramayana. Wayang ini proses pembuatannya selalu diukur-ukur bentuk tinggi dan panjang pundaknya sehingga sesuai dengan selera dan jiwa seninya inilah alasan mengapa dinamakan Wayang Ukur, bahkan dalam proses pembuatan bentuk fisik sudah banyak merubah bentuk pakem wayang pada umumnya. Selalu ada bentuk atau tokoh wayang baru dalam setiap kebutuhan untuk pertunjukan.
Saat itu ia membuat tokoh wayang Petruk dan Gareng yang agak berbeda dengan pakem yang sudah ada. Wayang kreasi baru Sukasman ini lebih menonjolkan ciri khas kedua tokoh punakawan itu. Misalnya, ia lebih menonjolkan kecacatan mata, tangan, dan kaki Gareng.
Perubahan bentuk wayang kreasi Sukasman itu sebenarnya didasarkan atas perhitungan ilmiah. Sukasman mencontohkan, huruf E jika dilihat dari jauh akan terlibat seperti huruf B. Karena itu, "sosok" huruf E harus "dikuruskan" agar tetap tertangkap mata dengan jelas dari jarak jauh. Pertimbangan Sukasman sangat rasional. Menonton pertunjukan wayang selalu dari jarak jauh. Itu sebabnya, Sukasman perlu memasukkan perhitungan teknis. Seperti apa yang ia ungkapkan dalam (http://www.isi.ac.id/main/index.php?categoryid=1&p2_articleid=183) "Saya hanya mencari ukuran baru dari ukuran yang sudah ada. Itulah Wayang Ukur," ujar Sukasman.
2. Bahan dasar pembuatan dan wilayah perkembangan Wayang Ukur
Bahan Dasar : Kulit kerbau, kulit sapi, kulit kambing dan tanduk kerbau. Hasil samakan dijadikan sebagai bahan pokok dalam membuat wayang kulit. Kulit kerbau merupakan kulit yang lazim digunakan karena bila dibandingkan dengan kulit sapi, memiliki kekuatan tarik, kemu-luran, dan suhu kerut yang lebih baik. Sementara itu kulit kambing jarang digunakan karena terlalu tipis. Dalam perkembangannya, Wayang Ukur berkembang di Yogyakarta dan di Solo.
3. Cerita yang dilakonkan wayang ukur
Wayang ukur yang biasa dipentaskan adalah Wayang Ukur Bisma Sang Mahawira, dengan mengambil lakon “Bisma Sang Mahawira”, yang berperang dalam mempertahankan negara. Wayang ukur buatan Ki Sukasman ini hanya memiliki durasi sekitar dua jam, namun tidak mengurangi esensi ceritanya. Wayang ini dipentaskan dalam bahasa Indonesia. Ceritanya masih banyak yang mengambil lakon kisah Mahabarata, namun ditambahkan dengan peristiwa-peristiwa yang sedang hangat terjadi.
Wayang ukur dipentaskan dengan sentuhan kontemporer, dengan kaidah seni rupa dan teknik tata cahaya yang baru dengan memadukan unsur-unsur seni tari, teater, gamelan, dan seni sastra yang tidak lagi tunduk pada konvensi tradisi. Bila biasanya dalam pementasan wayang hanya ada satu orang dalang, maka pada pertunjukan wayang ukur terdapat tiga orang dalang. Pementasan wayang ukur juga menggabungkan iringan musik tradisional dengan gamelan kontemporer serta tata lampu yang semakin bervariasi.

Wayang Golek Purwa

1. Definisi Wayang Golek Purwa
Wayang golek adalah suatu seni pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, terutama sangat popular di wilayah Tanah Pasundan. Wayang golek terbagi menjadi dua macam, yaitu wayang golek papak dan wayang golek purwa. Wayang golek yang banyak dikenal orang adalah wayang golek purwa.
Kata Golek, merupakan istilah Sunda untuk menafsir-kirata: yaitu ugal-egol ulak-olek (bergerak seperti menari). Bagian kepala merupakan unsur pokok pada wayang golek, kepala dibentuk dan dihias. Hiasan kepala diukir dengan pisau raut dan diberi warna. Kepala dan lengan golek termasuk kepada bagian yang bisa di ugal-egol ulak-olek. Pakaian yang dikenakan pada golek dibuat dari bahan kain, menutupi bagian bawah tubuh yang tidak berkaki. Sampurit atau gapit digunakan sebagai pegangan dalang ketika memainkan golek dan untuk menancapkan golek pada alas gebog (gedebok/batang pisang). Sedangkan ari golek dari bahasa Jawa yang berarti mencari, dimaksudkan agar setelah selasai mengikuti lakon, penonton bisa “nggoleki”, mencari inti pelajaran yang tersirat pada pagelaran itu.

2. Bahan dasar pembuatan Wayang Golek Purwa
Wayang golek biasanya dibuat dari bahan baku berupa kayu jenis albasia atau kayu lame. Kedua jenis kayu tersebut sengaja dipilih sebagai bahan baku karena kayu-kayu jenis tersebut mudah dibentuk. Bahan baku lainnya yang biasa digunakan adalah bahan cat serta peralatan pengecatan yang biasanya berupa alat cat semprot seperti banyak digunakan di bengkel-bengkel pengecatan mobil.

3. Wilayah Perkembangan Wayang Golek Purwa
Cirebon merupakan daerah pertama di Jawa Barat yang menjadi tempat
berkembangnya wayang. Wayang Kulit, (wiryanapura: Somatri 1989), adalah bentuk pertama yang ada di Cirebon. Perkembangannya berkaitan dengan pertumbuhan agama Islam, terutama ketika Sunan Gunung Jati (1479-1568) memerintah, wayang dimanfaatkan sebagai media dakwah keislaman.

4. Cerita yang dilakonkan Wayang Golek Purwa
Cerita / lakon wayang golek pada umumnya mengacu kepada pakem Padalangan pada umumnya, walaupun sudah banyak yang menyimpang dari aslinya. Acuan pakem padalangan yang digunakan :
• Babad Lokapala/Arjuna Sasrabahu
Istilah Babad Lokapala merupakan istilah pada Padalangan Sunda,sedangkan pada Padalangan Jawa disebut sebagai (Serat) Arjuna Sasrabahu. Lakon ini dapat dikatakan lebih tua daripada Ramayana, namun “sebenarnya” merupakan kisah Rahwana menuju kapada Cerita Ramayana. Karena mahirnya para pujangga, kisah ini seolah-olah runut, dari kisah paradewa-lahirnya Rahwana, Subali-Sugriwa, Arjuna Sasrabahu begitu juga hubungan kekeluargaan dari tokoh-tokoh dalam alur Cerita Babad Lokapala.
• Ramayana
Ramayana pada wayang golek purwa, mengacu kepada kisah asli; Ramayana, yang terdiri atas tujuh “kanda”:
1. Bala kanda, mengisahakan Kusya dan Lawa, menjadi “pengedar” dongeng kisah Rama yang tega mengusir Dewi Sinta yang sedang hamil. Sinta dipelihara oleh Resi Walmiki. Rama menyadari perilakunya.
2. Ayodya kanda, kisah Kusya dan Lawa, yang mengisahkan Leluhur Rama. Kisah Dasarata yang akan melantik Rama menjadi raja, digagalkan Dwei Kakeyi yang menuntut anaknya Barata dijadikan raja. Padahal Barata tidak menghendakinya. Rama harus dibuang ke hutan.
3. Arania kanda: mengisahkan kehidupan Rama, Sinta dan Laksmana di hutan Dandaka. Kanda ini diakhiri dengan diculiknya Dewi Sinta oleh Rahwana, dan Rama mencari permaisurinya.
4. Kiskenda kanda, mengisahkan pertarungan Resi Sobali dan Sugriwa. Dengan pertolongan Rama, Sobali dapat dibunuh. Dengan matinya Sobali, Sugriwa mengerahkan rakyatnya membantu Rama.
5. Sundara kanda, Anoman diutus memberikan cincin Batara Rama kepada Dewi Sinta. Anoman memberikan cincin Rama di taman Soka, dan Sinta memberikan Konde (Cundamanik). Anoman dikepung oleh wadiabala Alengka. Anoman membakar sebagian Alengka. Babak ini sering disebut Anoman Duta.
6. Yuda kanda, mengisahkan perang antara Rama dan Rahwana, yang diakhiri dengan kematian Rahwana, karena dihimpit gunung Sondara-Sondari. Diakhiri dengan kembalinya Dewi Sinta ke Ayodya, disertai Dewi Trijata.
7. Utara kanda, untuk membersiihkan tudingan masyarakat, karena prasangka akan kesucian Dewi Sinta. Karena Sinta merupakan isteri setia,Sinta tetap tanpa cacat walaupun dibakar. Masyarakat percaya dan Rama menerima Sinta sebagi permasurinya. Babak ini sering disebut dengan Sinta Labuhgeni atau Sinta Obong. Namun masyarakat tetap berburuk sangka, setelah Sinta dinyatakan suci, Sinta kembali ke hutan dan dipelihara oleh Resi Walmiki, sampai melahirkan Kusa dan Lawa. Sinta diminta untuk kemali ke Ayodya, tetapi Sinta malah memasuki Patala dan diterima oleh Dewi Pratiwi.
• Mahabarata
Seperti halnya Ramayana, Mahabarata juga digunakan sebagai acuan, dan terdiri dari 18 parwa, yaitu:
1. Adiparwa, mengisahkan leluhur Pandawa dan Korawa, diantaranya juga mengisahkan Raja Duswanta-Dewi Sakuntala (orangtua Barata). Juga dikisahkan riwayat kelahiran Destarata dan Pandu serta kelahiran anak-anaknya dan perangainya. Asal muasalnya perselisilah Pandawa dan Korawa.juga sayembara di pancala. Sering disebut LULUHUR PANDAWA.
2. Sabha parwa, persidangan para putra mahkota, perjudian dengan dadu yang berakibat Pandawa harus masuk hutan Kamiaka slama 12 tahun. Sering disebut PANDAWA DADU
3. Wana parwa, kehidupan selama pengembaraan Pandawa di hutan.
4. Wirata parwa,penyamaran Pandawa selama satu tahun di negara Wirata. Terbunuhnya Kaecaka.
5. Udyoga parwa, persiapan Baratayuda, memint bantuan negara sahabat. Kresna menjadi duta Pandawa untuk meminta Amarta. Dalam padalangan Sunda, Sering disebut bab KRESNA DUTA.
6. Bisma parwa, mengisahkan keperwiraan Resi Bisma dalam memimpin bala Korawa. Bisma dikalahkan Dewi Srikandi yang merupakan titisan Dewi Amba.
7. Drona parwa, mengisahkan taktik perang yang digunakan bala Korawa dibawah pimpinan Resi Dorna. Resi Dorna gugur karena kecintaannya kepada anaknya Aswatama yang didengarnya sudah gugur dan percaya akan kata-kata Samiaji.
8. Karna parwa, pertempuran Karna sebagai Mahasenapati Korawa melawan Arjuna. Karna gugur. Cerita ini lebih terkenal dengan nama KARNA TANDINGAN atau KARNA TINANDING.
9. Salya parwa, pertempuran Mahasenapati Salya. Salya terkena panah Samiaji akibat supata Resi Bagaspati, mertua Salya.
10. Sauptika parwa, penyerbuan tiga pahlawan Korawa, dipimpin Aswatama dan berhasil membunuh Drestajumena, Srikandi dan Pancawala. Aswatama dikutuk oleh Batara Kresna, sehingga sukmanya “berada di dalam tanah”.
11. Stri parwa, mengisahkan kesedihan janda-janda dari kedua belah pihak.
12. Santi parwa, nasihat kewajiban dan tugas Kepala Negara dari Kresna, serta dari Bisma, agar tenang tenteram mengurus negara, serta persiapan kurban kuda.
13. Anusasana parwa, nasihat Resi Bisma sebelum meninggal
14. Aswamedika parwa, korban kuda, upacara pelantikan Semiaji jadi raja.
15. Asramawasana parwa, Destarata,Dewi Gandari dan Dewi Kunti, bertapa di hutan, dan meninggal akibat kebakaran hutan.
16. Mausala parwa, mengisahkan meninggalnya Prabu Baladewa dan Batara Kresna. Negara Meralaya ditelan ombak, rakyat Meralaya musnah akibat saling gada. Batara Krena meninggal akibat terpanah kakinya.
17. Mahasprahastanika parwa, mengisahkan Semiaji menyerahkan tahta Astina kepada Parikesit. Selanjutnya pandawa mengadakan perjalanan suci ke Himalaya. Masing-masing Pandawa mninggal kecuali Semaji.
18. Swargarohana parwa, buku terakhir. Semaji melihat saudara-saudaranya di neraka dan Korawa di sorga- yang kemudian bertukar tempat, Pandawa berada di sorga.
Dalam kisah Mahabarata terdapat cerita/lakon yang tidak dapat dengan begitu saja dipergelarkan, yaitu Barata Yuda (Perang Barata), namun kisah-kisah ini paling menarik masayarakat. Sehingga Baratayuda ini penyajian pagelarannya dibagi dalam 24 lakon:
1. Kresna Duta, Kresna menjadi utusan Pandawa, namun Korawa tetap pada pendiriannya, yang akhirnya diputuskan untuk tetap berperang.
2. Jaya Seta, Gugurnya Seta oleh Resi Bisma.
3. Jaya Renyuan, gugurnya Abimanyu oleh Jayadrata, oleh senjata Gagak rancang, sehingga tubuhnya dipenuhi panah.
4. Jaya Tigasan, Arjuna sedih atas kematian Abimanyu, dan membalas dendam kepada Jayadrata. Jayadrata gugur oleh Arjuna.
5. Jaya Perbangsa, gugurnya Gatotkaca akibat senjata Konta yang digunakan Adipati Karna.Konta menghilang bersama sukma Gatotkaca, layaknya sebuah keris yang masuk ke dalam warangkanya, karena warangka Konta ada dalam pusar Gatotkaca.
6. Jaya Jamabakan, matinya Dursasana oleh Bima. Darah Dursasana digunakan untuk mencuci rambut Dewi Drupadi serta juga diminum Bima.
7. Karna Tinanding, gugurnya Adipati Karna oleh Arjuna.
8. Jaya Lenglengan, gugurnya Prabu Salya oleh Darmakusumah, yang juga dibantu oleh supata Resi Bagaspati (mertua Salya)
9. Jaya Lenggakan, gugurnya resi Dorna oleh Drestajumena, setelah dibohongi bahwa Aswatama mati.
10. Jaya Sebitan, binasanya Patih Sangkuni oleh Bima, dengan menghantam mulut Sangkuni.
11. Jaya Pupuan, gugurnya Prabu Suyudana oleh Bima. Suyudana membilas badannya dengan minyak Renggatala/Kamandungu sehingga kebal, tetapi paha (PUPU) kirinya tidak kena minyak, karena sudah habis. Paha Suyudana menjadi titik matinya Suyudana, dan dipukul Bima.
12. Jaya Gangsiran, dibunuhnya Drestajumena, Pancawala dan Srikandi oleh Aswatama, pada saat tidur di kemah. Aswatama dikutuk Kresna, sukmanya ber”edar di dalam tanah.
13. Jaya Sunggal, matinya anak-anak Raja Wirata : Wirasangka terbunuh oleh Resi orna dan Utara oleh Prabu salya.
14. Jaya Ampuwalikal, gugurnya Irawan,anak Arjuna, oleh Kalasrenggi. Kalasrenggi dibunuh Arjuna
15. Jaya Prabata, mengisahkan Sang Prabata, wasu bungsu yang menitis kepada Bisma melawan Srikandi titisan sukma Dewi Amba. Resi Bisma dipenuhi panah-panah Srikandi.
16. Jaya Lalewa, Dewi Siti Sondari, melakukan satia - labuh geni, karena meninggalnya Abimanyu.
17. Jaya Gandolan, mengisahkan gugurnya Burisrawa oleh Padmanagara/ Sencaki.
18. Jaya Gitikan, mengisahkan kematian Antaraeja, akibat menjiat tapak kakinya.
19. Jaya Kalamuncul, saat Arjuna dan Dipati Karna bertempur, muncul ular yang bernama Ardawalika, yang ingin membalas dendam kepada Arjuna, karena ayahnya dibunuh Arjuna. Dengan naihat Batara Kresna , Ardawalika dapat dibunuh.
20. Jaya Runiaga, mengsahkan Dewi Surtikanti melakukan satia-labuhgeni akibat gugurnya Dipati Karna.
21. Jaya Winagun, arjuna melawan walmuka, tetapi Kresna marah dan pulang ke Dwarawati.
22. Jaya Suminggar, Wisata mendakwa Batara Kresna, bahwa pelaku licik dibiarkan. Kresna mengatakan sukar melaksanakannnya karena perang yang hebat, tak dapat lagi membedakan mana yang benar dan yang curang.
23. Jaya Wigegela, Prabu salya bertengkar dengan Aswatama, karena Salya “curang” ketika menjadi kusir Dipati Karna.
24. Jaya Sumingkal, Resi Abiasa mengusir siluman danb para setan
Karena semua judul hampir menggunakan kata Jaya, maka dalam padalangan Sunda, Baratayuda disebut sebagai Perang Jaya.
• Wayang Madya, beberapa lakon yang sering dipagelarkan diantaranya: Bagawan Mayangkara (Anoman Mokswa), Gendrayana lahir, Gendrayana ngadeg, Raja Babad Memenang.


Daftar Pustaka
Arifh. Kerajinan Wayang Golek Giri Harja. http://arifh.blogdetik.com/kerajinan-wayang-golek-giri-harja/ (diunduh 27/9/10, 14.00)

Paningron, Bambang. Dunia Sukasman. http://www.facebook.com/group.php?gid= 87047196289&v=app_2373072738#!/topic.php?uid=87047196289&topic=8223 (diunduh 25/9/10, 08.10)

Pentas wayang ukur. http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2010/04/11 /brk, 2010 0411-239498,id.html (diunduh 24/9/10, 17.22)

Sulistyawan. Wayang ukur, pembaruan seni pakeliran. http://indonesiaseni.com/seni-pertunjukan/peristiwa-pertunjukan/wayang-ukur-pembaharuan-seni-pakeliran.html (diunduh 24/9/10, 17.15)
Kesenian wayang golek. http://mandiri4evercom.blogspot.com/2010/08/kesenian-wayang-golek.html (diunduh 27/9/10, 13.05)
Wayang Golek Sunda (from Konten Digital Depkominfo RI). http://dwihimura.wordpress.com /2009/03/06/wayang-golek-sunda-from-konten-digital-depkominfo-ri/ (diunduh 27/9/10, 13.30)
Wayang Kulit Ukur. http://www.museumwayang.com/Wayang%20Kulit%20Ukur.html (diunduh 27/9/10, 12.33)
Artikel. http://www.isi.ac.id/main/index.php?categoryid=1&p2_articleid=183 (diunduh 27/9/10, 13.01)

PERBAIKAN PROSES PENGELASAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN DAN KEKERASAN HASIL SAMBUNGAN LAS PADA BENGKEL KONSTRUKSI DAN OTOMOTIF DI KECAM

PERBAIKAN PROSES PENGELASAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN DAN KEKERASAN HASIL SAMBUNGAN LAS PADA BENGKEL KONSTRUKSI DAN OTOMOTIF DI KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG




Peranan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam menunjang pembangunan daerah adalah sangat besar. Untuk itu, pemberdayaan UKM termasuk para pemilik bengkel haruslah terus dilakukan yaitu dengan cara pembinaan penerapan teknologi, baik teknologi proses maupun desain konstruksi, sehingga dapat meningkatkan kuantitas, kualitas dan daya saingnya.
Teknologi Proses pengelasan yang digunakan oleh para ahli las pada bengkel konstruksi selama ini masih konvensional secara turun temurun, demikian pula desain konstruksinyanya belum berorientasi pada kebutuhan masyarakat luas, sehinga kualitas sambungan dan bentuk konstrusi yang dihasilkan kurang memberikan jaminan kekuatan dan kekerasan permukaan konstruksi sambungan.
Pemilihan tempat kegiatan Di Bengkel mobil Adi Puro dan Bengkel Las Dalbo terletak Di Desa Tlogomas dan Desa Tlogo Indah Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, karena dilihat dari posisi kedua bengkel tersebut menunjukkan tempat yang setrategis untuk pengembangan usaha dimasa yang akan datang. Hal inilah yang mendorong diadakannya kegiatan pengabdian untuk pengembangan kedua bengkel tersebut agar menjadi lebih maju dan mapan dalam pengembangan jasa perbengkelan.
Dari keberhasilan penerapan Iptek yang dilakukan, terdapat peningkatan-peningkatan misalnya tukang las sudah menggunakan prosedur dengan baik yaitu meliputi langkah persiapan dengan pembersihan permukaan yang akan dilas, penyusunan kampuh las dengan baik, menggunakan alat pengamanan baik. Langkah pelaksanaan pengelasan sudah ada peningkatan memilih elektrode, arus dan media pendingin yang cocok untuk jenis pengelasan tertentu. Langkah setelah pengelasan diadakan pembersihan permukaan dan juga paniting. Peningkatan Kekerasan hasil penerapan Iptek dengan sebelumnya adalah sebesar 2,3 % sedangkan untuk Kekuatan tarik meningkat sebesar 5,65 %. Dilihat dari sisi penambahan alat Jig ang Figture dapat meningkatkan ketelitian dari pergeseran konstruksi sebesar 3-5 cm.



A. ANALISA SITUASI
Jumlah Bengkel Konstruksi dan Otomotif yang merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Malang mengalami perkembangan yang pesat, pada tahun 1999 sejumlah 13.125 UKM menjadi 15.000 UKM pada tahun 2001. Hal ini memberikan dampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja dari tahun 1998 sejumlah 66.358 orang tenaga kerja menjadi 180.481 orang pada tahun 2001 atau meningkat 171%.
Usaha pengembangan dan pemberdayaan UKM dalam rangka meningkatkan daya saing produknya banyak mengalami kendala karena beberapa faktor antara lain keterbatasan pemodalan, terbatasnya sumber daya manusia yang berkualitas, kurangnya pemahaman dan kemampuan dalam sains dan teknologi, kurangnya kemampuan manajemen terutama manajemen produksi dan pemasaran juga keterbatasan akses kepada sumber teknologi dan akses pasar. Untuk itu usaha-usaha peningkatan dan pemberdayaan UKM selayaknya didasarkan pada tujuan untuk mengatasi faktor-faktor yang selama ini menjadi kendala dalam pengembangan dan pemberdayaan UKM antara lain melalui kegiatan peningkatan kemampuan SDM disertai peningkatan dan penguatan teknologi serta manajemen.
Peranan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam menunjang pembangunan daerah adalah sangat besar. Untuk itu, pemberdayaan UKM termasuk para pemilik bengkel haruslah terus dilakukan yaitu dengan cara penerapan teknologi, baik teknologi proses maupun desain konstruksi, sehingga dapat meningkatkan kuantitas, kualitas dan daya saingnya.
Teknologi Proses pengelasan yang digunakan oleh para ahli las pada bengkel konstruksi selama ini masih konvensional atau secara turun temurun, demikian pula desain konstruksinyanya belum berorientasi pada kebutuhan masyarakat luas, sehinga kualitas sambungan dan bentuk konstrusi yang dihasilkan tidak mampu memberikan jaminan kekuatan dan kekerasan permukaan konstruksi sambungan.
Ketidakmampuan menghasilkan suatu sambungan konstrusi dikarenakan antara lain kekuatan sambungan yang dihasilkan rendah begitu juga bila pada konstruksi membutuhkan kekerasan yang baik etapi pada umumnya tidak diperhitungkan sehingga masyarakat pengguna jasa pengelasan hanya meneriha hasil tersebut.
Oleh karena itu, harus dilakukan upaya peningkatan kualitas dari pengelasan tersebut, misalnya dengan melakukan perbaikan proses pengelasan yang lebih berorientasi kepada kebutuhan masyarakat dan meningkatkan hasil produksi pengelasan misalnya pagar rumah, pembatas jalan, konstruksi otomotif dan lain-lain.

B. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
Ketidaksesuaian sambungan las dengan bahan dasar antara lain sambungan kalah kuat dengan logam induk, kekerasan permukaan lasan kalah dengan logam induk, mengalami korosi akibat proses finishing yang diduga tidak sesuai yaitu dengan menggunakan media pendinginan yang salah.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disususn rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana melakukan perbaikan proses pengelasan pada penyambungan komponen konstrusi logam pada bengkel konstruksi dan otomotif melalui penerapan teknologi pengelasan.
2. Bagaimana meningkatkan kekuatan dan kekerasan permukaan logam sambungan.
3. Bagaimana memilih kuat arus dan media pendingin yang cocok sehingga meningkatan kekuatan dan kekerasan permukaan logam sambungan.
4. Bagaimana mengembangkan profil lasan yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

C. TUJUAN PENERAPAN IPTEK
Kegiatan penerapan Iptek ini sebagai pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan agar para tukang dan pemilik bengkel pengelasan mampu:
1. Melakukan perbaikan proses pengelasan logam baik pengelasan komponen kendaraan, konstuksi bangunan, peralatan rumah tangga dan lain-lain melalui penerapan teknologi proses penyambungan logam.
2. Memperoleh hasil pengelasan yang memiliki kekuatan dan kekerasan permukaan yang lebih baik.
3. Memperbaharui dan membuat desain konstruksi yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat.


D. MANFAAT PENERAPAN IPTEK
Ditinjau dari segi IPTEKS, dengan kegiatan ini diharapkan para pemilik bengkel pengelasan mampu melakukan perbaikan proses, mendapatkan hasil lasan yang lebih tahan terhadap pembebanan tarik, geser, tekan maupun goresan atau beban gesek. dan mendapatkan hasil lasan yang lebih berorientasi kepada pasar yang membutuhkan produk konstruksi.
Ditinjau dari segi ekonomi, dengan diperolehnya proses pengelasan yang benar, maka tidak ditemuai lagi penggunaan jenis elektrode yang salah, penentuan kuat arus yang cocok dan media pendingin disesuikan dengan jenis konstrusi yang di las.sehingga tidak banyak mengeluarkan biaya yang sia-sia.

E. TINJAUAN PUSTAKA
Sampai pada waktu ini banyak cara-cara pengklasifkasian yang digunakan dalam bidang las. Secara konvensional cara-cara pengklasifikasian tersebut pada waktu inidapat di bagi dalam dua golongan, yaitu klasifikasi berdasarkan cara kerja dan klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan (Ilman :3)

a. Las Elektroda Terbungkus
Proses pemindahan logam elektroda terjadi pada saat ujung elektroda mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa oleh arus busur listri yang terjadi. Bila digunakan arus listrik yang besar maka butiran logam cair yang terbawa menjadi halus seperti terlihat pada Gbr 1(a), sebaliknya bila arusnya kecil maka butirannya menjadi besar seperti tampak dalam Gbr 1(b).
Gambar 1. Pemindahan logam cair
Sumber : Toshie Okumura, “Teknologi Pengelasan Logam” hal 9
Secara umum dapat dikatan bahwa logam mempunyai sifat mampu las tinggi bila pemindahan terjadi dengan butiran yang halus sedangkan pola pemindahan cairan dipengaruhi oleh besar kecilnya arus, juga oleh komposisi dari bahan fluks yang digunakan. Selama proses pengelasan bahan fluks yang digunakan untuk membungkus elektroda mencair dan membentuk terak yang kemudian menutupi logam cair yang terkumpul di tempat sambungan dan bekerja sebagai penghalang oksidasi. Dalam beberapa fluks bahannya tidak dapat terbakar, tetapi berubah menjadi gas yang juga menjadi pelindung dari logam cair terhadap oksidasi dan memantapkan busur (Okumura :9).
1. Bahan fluks
Di dalam las elektoda terbungkus fluks memegang peranan penting karena fluks dapat bertindak sebagai :
1. Pemantap busur dan kelancaran pemindahan butir-butir cairan logam.
2. Sumber terak atau gas pelindung logam cair terhadap udara di sekitarnya.
3. Pengatur penggunaan.
4. Sumber unsur-unsur paduan.

2. Busur listrik dan mesin las.
Dalam las elektoda, busurnya ditimbulkan dengan menggunakan listrik arus bolak balik (AC) atau listrik arus searah yang bahasa Inggrisnya “dirrect current” dan disingkat menjadi listrik DC. Tetapi karena pertimbangan harga mudahnya penggunaan dan sederhananya perawatan, maka listrik AC lebih banyak dipergunakan .
b. Struktur Mikro dan Sifat-Sifat Mekanik pada lasan
Pada umumnya struktur micro dari baja tergantung dari kecepatan pendinginannya dari suhu daerah austenit sampai ke suhu kamar. Dengan
perubahan struktur ini, dengan sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimiliki juga berubah. Hubungan antara kecepatan pendinginan dan struktur micro yang terbentuk biasannya digambarkan dalam diagram yang berhubungan waktu, suhu dan transformasi (Continuous Cooling Transformstion) atau CCT. Dari gambar 2. dapat dilihat bahwa kecepatan pendinginan naik yang berarti waktu pendinginan dari suhu austenit turun, struktur akhir yang terjadi berubah dari campuran ferrit-pearlit-bainit-martensit, ferit-bainit-martensit. Kemudian bainit-martensit dan akhirnya pada kecepatan yang tinggi sekali struktur akhirnya adalah martensit. Kekuatan baja ferit-perlit terutama batas luluhnya sangat tergantung pada ukuran butir ferrit. Hubungan ini oleh Hall-Petch dirumuskan dalam persamaan:

Gambar 2. Diagram Pendinginan Kontinue atau diagram CCT
Sumber : Toshie Okumura, “Teknologi Pengelasan Logam” hal 44

Di samping berhubungan dengan kekuatan, ternyata besar butir juga mempengaruhi energi patah dan perambatan retak. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin halus butir-butir kristal makin rendah suhu transisi ulet-getasnya. Karena itu memperhalus butir adalah sangat tepat dalam usaha memperbaiki kekuatan dan ketangguhan (Ilman : 45)
c. Siklus Termal Daerah Lasan
Dareah lasan terdiri dari 3 bagian yaitu logam lasan, daerah pengaruh panas (Heat Affected Zone) seperti pada gambar 2.4. Logam lasan adalah bagian logam yang pada waktu pengelasan mencair dan kemudian membeku. Daerah pengaruh panas atau dareh HAZ adalah logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang selama proses pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan pendinginan cepat. Logam induk tak terpengaruhi adalah bagian logam dasar dimana panas dan suhu pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dan sifat.
d. Pembekuan dan Struktur Logam Las
Cacat terbentuk dalam logam las, pemisahan atau segresi, lubang halus dan retak. Banyaknya cacat yang terjadi tergantung dari pada kecepatan pembekuan.


Gambar 3. Perubahan Struktur Micro
Sumber : Messler, “Principle of Welding” hal520
Pada gambar 3. ditunjukkan secara skematik proses pertumbuhan dari kristal-kristal logam las yang berbentuk pilar. Titik ini tumbuh menjadi garis lebur dengan arah yang sama dengan gerakan sumber panas. Pada garis lebur sebagian dari logam dasar turut mencair dan selama proses pembekuan logam las tumbuh pada butir-butir logam induk dengan sumbu kristal yang sama (Mesler :520)

F. HASIL DAN PEMBAHASAN
Bengkel mobil Adi Puro dan Bengkel Las Dalbo terletak Di Desa Tlogomas da Desa Tlogom Indah Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Dilihat dari posisi kedua bengkel tersebut menunjukkan tempat yang setrategis untuk pengembangan usaha dimasa yang akan datang. Hal inilah yang mendorong diadakannya kegiatan pengabdian untuk pengembangan kedua bengkel tersebut agar menjadi lebih maju dan mapan dalam pengembangan jasa perbengkelan. Harapan lebih jauh lagi bisa menjadi perusahaan yang menghasilkan produk konstruksi yang dibutuhkan masyarakat luas.
Dilihat dari sisi pengelolaannya kedua bengkel tersebut sangat sederhana dan konvensional, belum tersentuh teori teknologi dan menejemen yang baik, sehingga bisa dikategorikan usaha kecil dan menengah (UKM), yang semestinya mendapat perhatian dari pemerintah, dikarenakan mampu menampung tenaga kerja dengan ketrampilan yang rendah, Misalnya bengkel Adi Pura memiliki karyawan sekitar 15 orang dan bengkel Las Dalbo memiliki karyawan 10 orang.
Dilihat dari sisi kemampuan yang dimiliki karyawan terutama dibidang pengelasan dari kedua bengkel tersebut rata-rata masih konvensional yaitu belum banyak mengetahui tentang teori dasar pengelasan yang benar dan bagus, biasannya kamampuan yang dimiliki karena mengikuti secara alamiah yaitu bekerja mulai dari serabutan sampai memiliki kemampuan mengelas sendiri. Dari sisi pendidikan tukang las umumnya masih SD dan SMP, dari situ terlihat bahwa tukang las yang dimiliki bengkel kurang memahami proses pengelasan yang baik dan benar baik untuk meningkatkan kekerasan, kekuatan dan bagaimana membuat permukaan yang baik dan halus yang mampu mengurangi laju korosi belum terpenuhi dengan baik apalagi sampai mendekati standart AWS (American Welding Standart ).
Pertama kali sebelum penerapan Iptek dilakukan, maka diadakan pendataan dan survey ke lapangan untuk mengetahui kondisi bengkel dan masalah-masalah yang dihadapi atau yang bisa dikembangkan terutama yang berhubungan dengan proses pengelasa, baik persiapan, pelaksanaan dan perlakuan setelah pengelasan. Pemilik bengkel sangat mendukung kegiatan pengabdian ini dan selalu menyediakan waktu untuk setiap kali diadakan wawancara. Hal ini memudahkan untuk merumuskan masalah-masalah yang ada di bengkel tersebut.
Kegiatan ini dimulai bulan Juni dengan pengumpulan data-data yang diperlukan, dari data itu dibuat spesimen benda uji dilaboratorium Proses Produksi dan di uji di laboratorium Metalurgi Universitas Muhammadiyah malang . Dari hasil pengujian terlihat bahwa dengan perubahan kuat arus yang lebih tinggi pada tegangan yang sama didapatkan hasil peningkatan kekuatan, kekerasan dan laju aliran elektroda juga meningkat. Dari sisi penggunaan media pendingin yang dibuat dari oli, minyak tanah, udara, air dan air garam menghasilkan kekerasan permukaan yang meningkat. Dari situ disusunlah materi penyuluhan hasil peningkatan mutu pengelasan.
Langkah – langkah pengelasan yang dilaksanan dengan Prosedur pengelasan yang benar diantaranya adalah jadwal pembuatan, proses pembuatan, alat-alat yang diperlukan, bahan-bahan yang dipakai, urutan pelaksanaan pengelasan, persiapan penngelasan, perlakuan setelah pengelasan, pengaturan pekerjaan.
proses pengelasannya disesuakin dengan bahan, yaitu tebal tipisnya plat, menentukan dulu urutan pengelasnnya, type pengelasan yang digunakan, pembuatan kampuh yang cocok, pembersihan kampuh, jenis elektroda yang dipakai termasuk diameternya disesuikan dengan kampuh, pemanasan awal untuk plat tebal, alat bantu Jig and Figture, media pendingin yang cocok dan perlakuan setelah pengelasan.
Dalam memilih proses pengelasan dititik beratkan pada proses yang paling sesuai untuk tiap-tiap sambungan las yang ada pada konstruksi. Dalam hal ini tentu dasarnya adalah efisiensi yang tinggi, biaya yang murah, penghematan tenaga dan penghematan energi sehemat mungkin.
Dari sisi desain konstruksi, untuk membuat prifil yang dapat meningkatkan ketelitian dibuatlah Jig and Figture sebagai profil landasan untuk membuat bentuk konstruksi yang diinginkan lebih presisi misalnya pembuatan Pagar, Tralis dan pintu. Hal ini sangat berbahaya kalau dipasang ternyata ukurannya bergeser atau miring. Jig ang Figture dibuat dari besi profil U dengan ukuran lebar dalam 8 cm dan tebal 3 mm dengan model segi tiga yang meiliki panjang 2 meter dan lebat 1 meter, dan yang lain dibuat lurus dengan panjang 1 meter .

Gambar 4. Jig and Figture
Dari hasil monitoring terhadap keberhasilan penerapan Iptek telah ada peningkatan misalnya tukang las sudah menggunakan prosedur dengan baik yaitu meliputi langkah persiapan dengan pembersihan permukaan yang akan dilas, penyusunan kampuh las dengan baik, menggunakan alat pengamanan baik. Langkah pelaksanaan pengelasan sudah ada peningkatan memilih elektrode, arus dan media pendingin yang cocok untuk jenis pengelasan tertentu. Langkah setelah
pengelasan diadakan pembersihan permukaan dan juga pengecatan. Peningkatan Kekerasan hasil penerapan Iptek dengan sebelumnya ada peningkatan sebesar 2,3 % sedangkan untuk Kekuatan tarik meningkat sebesar 5,65 %. Dilihat dari sisi penambahan alat Jig ang Figture dapat meningkatkan ketelitian dari pergeseran konstruksi sebesar 3-5 cm.
Respon yang kurang nyata adalah disebabkan karena kedua bengkel ini hanya mengandalkan jasa pelanggan yang belum pasti, maka tingkat keberhasilannya terhadap peningkatan pelangan tidak bisa diukur secara pasti,
karena respon pelanggan terhadap hasil dari peningkatan kemampuan pengelasan relatif lama atau tahunan. Namun dari pantauan dilapangan pelanggan dari bengkel Dalbo meningkat 5 %






G. DATA HASIL PENINGKATAN PENERAPAN IPTEK
Tabel hasil pengujian kekerasan (HRc) sebelum dan sesudah ada penerapan iptek
Tabel Kekuatan (Kg/mm2) sebelum ada perbaikan proses pengelasan
Arus
Ampere Ulangan Total Rata-rata
I II III
100
150
200 70,4
71,25
75,55 69,23
73,54
74,18 68,45
74,99
75,33 208,08
219,78
225,06 69,36
73,26
75,05

Tabel Kekerasan (HRc) sebelum ada perbaikan proses pengelasan
Arus
Ampere Ulangan Total Rata-rata
I II III
75
90
105
122,5
140
160
180
197,5 39
41
43
47
50
51
52
53 44
45
46
45
48
50
49
52 45
46
50
51
46
48
50
49 128
132
139
143
144
149
151
154 42,667
44
46,33
47,667
48
49,667
50,33
51,33

Tabel Kekerasan (HRc) Sesudah ada perbaikan proses pengelasan
Arus
Ampere Ulangan Total Rata-rata
I II III
75
90
105
122,5
140
160
180
197,5 44
46
51
48
50
48
53
52 45
43
48
51
50
51
51
54 42
47
45
47
48
50
52
48 132
136
139
146
148
149
156
154 44
45,33
46,33
48,667
49,33
49,667
52
51,33

Tabel Kekuatan (Kg/mm2) sesudah ada perbaikan proses pengelasan
Arus
Ampere Ulangan Total Rata-rata
I II III
100
150
200 75,5
76,2
82,5 73,45
78,99
74,18 75,28
74,99
78,7 224,23
230,18
235,38 74,74
76,73
78,46

G. KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kesimpulan
Dari hasil pemantauan, pelaksanaan Iptek ini cukup berhasil, hal ini bisa dilihat dari.
1. Proses pengelasan sudah menggunakan cara-cara penerapan Iptek yang benar.
2. Telah menghasilkan peningkatan kekerasan permukaan hasil lasan 2,3 %
3. Telah menghasilkan peningkatan kekuatan hasil lasan 5,65 %
4. Telah menghasilkan peningkatan ketelitian posisi profil 3-5 cm
5. Respon pemilik dan tukang las untuk mengetahui cara mengelas dan permasalahan yang biasannya mucul dalam pengelasan cukup tinggi.
b. Saran
Untuk kegiatan selanjutnya adalah bagaimana membuat mesin inverter yang hemat energi dengan harga yang lebih murah.
Membuat Jig and Figture yang bisa digunakan pada arah vertikal dan dan dapat disetel
Susunan jaringan kerja yang meningkatkan efisiensi dan produktifitas karyawan dengan kwalitas hasil yang lebih baik.
















DAFTAR PUSTAKA
Cary Howard B, “Modern Welding Technology” Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey Q7632, USA, 1994.
Messler R.W, Jr., “Principles of Welding” John Wiley & Sons, Inc. USA, 1999.
1. Lancaster J.F.,“Metallurgy of Welding” Abington Publishing, Cambridge, England, 1999
2. Smith, Dave (date), “Welding Skills and Technology”, by Mc. Graw Hill International Edition, Singapore, 1989.
3. Toshie Okumura Prof. Dr. ,“Teknologi Pengelasan Logam”, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1996.
4. Smith W.F, “ Principles of Materials Science and Engineering” Mc. Graw Hill, 1996
5. Van Vlack, Sriati Djapri, “Ilmu dan Teknologi Bahan”, Erlangga, 1983.
6. Kalpakjian Serope, “Manufakturing Engineering and Technology”, Addison-Wesly Publising Company, New York, 1989.
7. Alexander W.O, “Dasar Metalurgi Untuk Rekayasawan” PT Gramedis Pustaka Utama, Jakarta, 1991
8. Walpole, R. E. & Raymond H. M (Terjemahan R.K. Sembiring dan Tetet Sutomo), “Ilmu Peluang dan Statistika untuk Insinyur dan Ilmuwan” ITB,. Bandung, 1995
9. W.O. Alexander PhD,Ceng,FIM “ Dasar – Dasar Metalurgi Untuk Rekayasawan” PT. Gremedia Pustaka Utama, Jakarta 1991
10. Ilman Nur, PhD. “ Teknik Pengelasan Logam” Diktat Kuliah, UGM, Yokyakarta, 2002
Subekhi Nur,ST, Daryono Ir, MT “Elemen Mesin I” Malang Oktober 2002

pemanasan global

Pemanasan global adalah keadaan di mana suhu atmosfer bumi meningkat,
sehingga es di kutub mencair.

Bagaimana suhu atmosfer bumi bisa meningkat? Ini terjadi karena efek
rumah kaca (greenhouse effect bahasa kerennya)... Karena jumlah gas2
rumah kaca (misalnya karbondioksida, metana, dll) di atmosfer melebihi
batas, mereka menahan panas matahari yang masuk sehingga suhu di bumi
semakin lama semakin meningkat.

Metana adalah salah satu gas yang sangat berbahaya. Gas ini berkali2
lebih berbahaya daripada karbon dioksida. Metana berada di es-es kutub
utara dan dasar laut. Selain itu, gas ini juga dihasilkan dari kotoran
binatang (terutama sapi) dan nafas mereka. Jadi bayangkan, keadaan
suhu yang tinggi sekarang telah melelehkan kutub, yg berakibat
pelepasan metana ke atmosfer bumi. Ditambah dengan gas dari peternakan
(tempat para binatang berkumpul), keadaan ini menjadi lingkaran setan
yang tak ada habisnya...

Bagaimana cara menghentikan pemanasan global?
Pengeluaran gas dari kutub dan laut, kita tidak bisa menghentikan.
Namun pengeluaran gas dari binatang, kita bisa menghentikannya. Dengan
menjadi vegetarian (tidak mengkonsumsi produk hewani, misalnya daging
binatang, susu, telur, keju), kita bisa menyelamatkan bumi dari
pemanasan global. Jumlah populasi hewan ternak saat ini jauh lebih
banyak, melebihi populasi manusia. Jumlah yang besar ini diakibatkan
oleh permintaan konsumsi daging dari masyarakat yang besar. Seandainya
permintaan daging masyarakat sedikit, jumlah populasi hewan ternak
juga akan menurun. Mereka tumbuh secara tidak alami, diberi obat
dkk...

Konsumsi daging membawa dampak yang sangat parah bagi bumi kita.
Konsumsi daging dapat menimbulkan berbagai penyakit pada tubuh.
Konsumsi daging menyebabkan kelaparan, kekurangan air dan kekeringan
di mana-mana (gandum di amerika 80%++ digunakan untuk memberi makan
hewan ternak yang akan disembelih, sementara itu banyak orang mati
kelaparan dan kekeringan di Afrika). KOnsumsi daging menyebabkan
hutan-hutan dibabat habis demi membangun peternakan. Konsumsi daging
memberikan polusi luar biasa besar bagi bumi, mulai dari transportasi
makanan, obat-obatan, dan daging dari peternakan ke pasar, hingga
limbah yang mereka buang, semua memberi dampak negatif yang sangat
berat bagi lingkungan kita. Karena kelaparan dan kemiskinan, munculah
apa yang kita sebut perang.

Sementara konsumsi daging menyebabkan banyak kerugian, pemanasan
global pun tidak mau kalah. Perubahan cuaca yang drastis di berbagai
negara menyebabkan banyak penyakit dan gagal panen. Bencana terjadi di
mana-mana. Ini semua disebabkan oleh pemanasan global. Sumber-sumber
mata air mulai meleleh, misalnya sumber mata air di Pegunungan
Himalaya.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan pemanasan global?

Sekali lagi saya tekankan, mengurangi, kalau perlu menghentikan
konsumsi daging adalah langkah terbaik dan tercepat untuk menghentikan
pemanasan global. Ini dikemukakan oleh ahli dari PBB, RAJENDRA
PACHAURI
Ketua Panel Antar Pemerintah Perubahan Iklim PBB (IPCC) dan DR. JAMES
HANSEN, Peneliti Iklim NASA.

Menjadi vegetarian adalah langkah yang sangat penting, sementara kita
melakukan hal2 yang lain. Misalnya, menghemat listrik, menghemat
penggunaan sumber daya alam, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,
AC. Membuang2 makanan dengan tidak perlu. Membuang sampah sembarangan.
Masih banyak lagi. Namun ini semua adalah pengobatan dari luar.

Sama seperti penyakit. Ada penyakit yang memberi efek samping ke
kulit. Kita seharusnya menyembuhkan penyakit ini dari dalam, sehingga
bintik2 merah di kulit ikut hilang. Bukan dengan mengobati kulit kita,
tapi tidak memperhatikan penyakit dari dalam.

Begitu pula dengan pemanasan global. Konsumsi daging dan peternakan
adalah penyebab utama dari pemanasan global. Dengan menghentikan
konsumsi daging, kita menyembuhkan bumi ini dari dalam. Hal2 lain
seperti membuang sampah pada tempatnya, menggunakan tenaga surya dan
angin, dan banyak lagi, itu semua hanyalah pengobatan dari luar.

Tentu penghentian konsumsi daging terasa sangat berat. Ini hanyalah
pada awal saja! Selanjutnya, kita akan terbiasa. Salah satu tip yang
bisa dilakukan adalah menjadi vegetarian seminggu sekali. Dalam 7
hari, 1 hari kita menjadi vegetarian = menanam pohon hingga tumbuh
besar! Bayangkan jika kita menjaid vegetarian selamanya. Menjadi
vegetarian saat ini sangatlah mudah. Ada banyak depot vegetarian,
menyediakan makanan yang nikmat, dan juga cinta alam. Anda bisa
membeli "daging palsu", terbuat dari gluten(sari tepung), jamur,
kedelai; yang mana daging ini bersahabat dengan tubuh dan lingkungan.

Tujuan Pengarahan

Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efektif serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Di dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut manusia juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri. Pengarahan juga merupakan suatu proses dimana manajer memberi instruksi, petunjuk, dan mengawasi pelaksanaan pekerja untuk mengantisipasi tujuan. Pengarahan dapat dikatakan sebagai jantung dari proses manajemen. Perencanaaan, pengorganisasian, dan staffing tidak berjalan dengan baik bila fungsi pengarahan tidak dilakukan.

Pengarahan memiliki beberapa karakteristik:
1. Pervasive Function, yaitu pengarahan diterima pada berbagai level organisasi. Setiap manajer menyediakan petunjuk dan inspirasi kepada bawahannya.
2. Continous Activity, pengarahan merupakan aktivitas berkelanjutan disepanjang masa organisasi
3. Human factor, fungsi pengarahan berhubungan dengan bawahan dan oleh karena itu berhubungan dengan human factor. Human factor adalah perilaku manusia yang kompleks dan tidak bisa diprediksi.
4. Creative Activity, fungsi pengarahan yang membantu dalam mengubah rencana ke dalam tindakan. Tanpa fungsi ini, seseorang dapat menjadi inaktif dan sumber fisik menjadi tak berarti.
5. Executive Function, Fungsi pengarahan dilaksanakan oleh semua manajer dan eksekutif pada semua level sepanjang bekerja pada sebuah perusahaan, bawahan menerima instruksi hanya dari atasannya.
6. Delegated Function, pengarahan seharusnya adalah suatu fungsi yang berhadapan dengan manusia. Atasan harus dapat mengetahui bahwa perilaku manusia merupakan suatu hal tidak dapat diprediksi dan alami sehingga atasan seharusnya dapat mengkondisikan perilaku seseorang ke arah tujuan yang diharapkan.
Pengarahan dikatakan sebgai jantung dari proses manajemen. Oleh karena itu, pengarahan merupakan poin sentral dimana pencapaian tujuan merupakan hal yang penting. Sebagai karakter sentral, pengarahan menyediakan beberapa manfaat meliputi:
1. Memprakarsai aksi (Initiates Actions).
Pengarahan merupakan suatu titik awal dari pelaksanaan kerja dari karyawan. Apabila pengarahan dijalankan, karyawan dapat mengerti pekerjaannya dan melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi
2. Mengintegrasikan upaya (Integrates Efforts).
Selama mengarahkan, atasan dapat memberi petunjuk atau tuntunan, menginspirasi, dan memberi instruksi bawahan untuk bekerja. Untuk itu, usaha dari setiap individu harus sesuai dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Hal ini dimaksudkan agar upaya pengarahan dari setiap departemen yang ada dapat berhubungan dan berintegrasi dengan yang lainnya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui “persuasive leadership” dan komunikasi yang efektif agar upaya integrasi dapat berjalan efektif dan stabil.
3. Alat memotivasi (Means of Motivation).
Manajer menggunakan elemen motivasi untuk meningkatkan pelaksanaan dari para karyawan.
4. Menyediakan stabilitas (Provides Stability).
Stabilitas dan keseimbangan menjadi sangat penting karena merupakan indeks pertumbuhan dari suatu perusahaan. Manajer harus dapat memiliki empat karakter yang dibutuhkan, yaitu persuasive leadership, komunikasi yang efektif, supervise yang tegas, dan koefisien motivasi untuk dapat menjaga penyelenggaraan sesuai dengan standar yang ada.
5. Menaikkan koping dengan perubahan (Coping up with the changes).
Perilaku manusia menunjukkan suatu tahanan untuk berubah. Adaptasi dengan perubahan lingkungan membantu dalam mendukung rencana pertumbuhan perusahaan. Pengarahan digunakan beradaptasi dengan adanya perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal. Komunikasi yang efektif dapat membantu meningkatkan koping dengan adanya perubahan. Manajer berperan untuk mengkomunikasikan sifat dan isi dari perubahan secara jelas kepada bawahan.
6. Penggunaan sumber daya secara efisien (Efficient Utilization of Resources).
Pengarahan financial membantu dalam mengklarifikasi peran dari setiap karyawan pada pekerjaannya. Melalui pengarahan, peranan karyawan menjadi jelas karena manajer melakukan pengawasan, memberikan petunjuk, instruksi, dan kemampuan motivasi untuk menginspirasi bawahan Hal ini dapat membantu dalam kemungkinan penggunaan sumber daya maksimum, baik itu pria, wanita, mesin, dan uang guna memperkecil biaya dan menambah profit.

Cara-cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa :
1. Orientasi
Merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
2. Perintah
Merupakan permintaan dri pimpinan kepada orang yang berada di bawahnya untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu.
3. Delegasi wewenang
Dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan melimpahkan sebagian dari wewenang yang dimilikinya kepada bawahannya.

Pengarahan pada hakekatnya adalah keputusan-keputusan pimpinan yang dilakukan agar kegiatan-kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. Dengan pengarahan (directing) diharapkan :
1. Adanya kesatuan perintah (unity of command), artinya dengan pengarahan ini
akan diperoleh kesamaan bahasa yang harus dilaksanakan oleh para pelaksana.
Sehingga tidak tercapai kesimpangsiuran yang dapat membingungkan para
pelaksana.
2. Adanya hubungan langsung antara pimpinan dengan bawahan. Artinya dengan
pengarahan yang berupa petunjuk atau perintah atasan yang langsung kepada
bawahan, tidak akan terjadi miskomunikasi. Disamping itu pengarahan yang
langsung ini dapat mempercepat hubungan antara atasan dan bawahan.
3. Adanya umpan balik yang langsung. Pimpinan dengan cepat memperoleh umpan
balik terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Selanjutnya umpan balik ini dapat
segera digunakan untuk perbaikan.
Tujuan pokok pengarahan adalah agar kegiatan-kegiatan dan orang-orang yang melakukan kegiatan yang telah direncanakan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang membuat kemungkinan tidak akan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
http://www.managementstudyguide.com/importance_of_directing.htm
http://www.ag.ohio-state.edu/~mgtexcel/Direct.html